Pemkot Bandung Luncurkan Rencana Induk Pangan dan Aplikasi Food Waste

Rabu, 24 Sep 2025 21:24 WIB
Pemkot Bandung Luncurkan Rencana Induk Pangan dan Aplikasi Food Waste

Brilian•BANDUNG – Dalam momentum Hari Tani Nasional 2025, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung meluncurkan Rencana Induk Ketahanan Pangan 2025–2030 sekaligus memperkenalkan aplikasi pengelolaan sisa makanan (food waste). Kedua terobosan ini dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat kemandirian pangan di perkotaan sekaligus menekan potensi pemborosan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan pilar penting bagi kedaulatan bangsa. “Tanpa ketahanan pangan, ancaman terhadap negara akan semakin besar. Maka Bandung harus menyiapkan grand design pangan yang berkelanjutan,” ujarnya di Pendopo Kota Bandung, Rabu (24/9/2025).

Farhan menjelaskan, rencana induk ini akan menjadi pedoman utama dalam menyusun berbagai program pangan dan pertanian kota, mulai dari perlindungan lahan pertanian, pemanfaatan teknologi, hingga distribusi pangan. “Ini bukan proyek satu tahun, melainkan arah jangka panjang yang wajib dijaga,” tambahnya.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, menuturkan bahwa Bandung tidak bisa berdiri sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan. “Kota Bandung bukan produsen, 96 persen pangan kita bergantung dari luar. Maka kita harus punya desain yang terintegrasi agar pasokan tetap terjamin,” jelasnya.

Selain rencana induk, Pemkot Bandung juga meluncurkan aplikasi pengelolaan food waste. Aplikasi ini menghubungkan sisa makanan dari hotel, restoran, hingga rumah tangga dengan kelompok masyarakat. Sisa makanan yang masih layak konsumsi bisa dialihkan kepada warga yang membutuhkan, sementara makanan tidak layak akan diolah menjadi pupuk organik. “Aplikasi ini lahir dari kerja sama dengan Unpar (Universitas Katolik Parahyangan) dan komunitas lokal,” terang Gin Gin.

Data DKPP mencatat, indeks ketahanan pangan Kota Bandung pada 2023 berada di angka 90,46, lebih tinggi dari rata-rata Jawa Barat. Meski begitu, tantangan masih ada, mulai dari kasus gizi buruk, ketergantungan suplai luar daerah, hingga tingginya food waste di perkotaan.

Dengan hadirnya rencana induk dan aplikasi ini, Pemkot Bandung berupaya menunjukkan bahwa kota metropolitan juga bisa menjaga ketahanan pangan melalui inovasi, kolaborasi, dan efisiensi pengelolaan.**

Pos terkait