Mikroplastik Masuk Otak Manusia, Ecoton Serukan Tindakan Nasional

Rabu, 4 Jun 2025 18:43 WIB
Mikroplastik Masuk Otak Manusia, Ecoton Serukan Tindakan Nasional
Temuan mikroplastik dalam sel imun otak picu kekhawatiran akan dampak kesehatan jangka panjang. Ecoton desak regulasi ketat untuk mengakhiri polusi plastik.( Foto; Brilian News.id)

Gresik | Brilian News.id — Dalam momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang mengangkat tema Ending Plastic Pollution, Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) kembali menyoroti bahaya mikroplastik terhadap kesehatan manusia. Temuan terbaru menunjukkan akumulasi mikroplastik dalam sel imun otak manusia, yang berpotensi memicu gangguan neuroinflamasi dan autoimun.

“Keberadaan mikroplastik dalam otak harus menjadi peringatan keras bagi masyarakat Indonesia,” ujar Alaika Rahmatullah, Koordinator Pendidikan dan Kampanye Ecoton, dalam keterangan persnya, Rabu (4/6). Ia mengungkapkan bahwa mikroplastik dalam tubuh manusia kini telah menjadi hal umum, terutama akibat paparan melalui udara.

Menurut riset Bioaccumulation of Microplastics in Decedent Human Brains yang dilakukan Alexander J. Nihart dan tim di Meksiko tahun ini, ditemukan bahwa otak manusia mengandung proporsi polietilena yang lebih tinggi dibandingkan dengan organ lain seperti hati dan ginjal. Jenis plastik ini umumnya berasal dari botol air minum dalam kemasan.

Bacaan Lainnya

“Sebagian besar partikel mikroplastik yang ditemukan di otak hadir dalam bentuk fragmen nano, yang menetap di dinding serebrovaskular dan sel imun. Ini bisa memicu reaksi peradangan serius,” tambah Alaika, alumni Biologi UIN Malang.

Paparan mikroplastik melalui udara disebut sebagai jalur utama kontaminasi. Manusia diperkirakan menghirup antara 0,1 hingga 5 gram mikroplastik setiap minggunya. Di Jawa Timur, kadar mikroplastik tertinggi tercatat di Gresik sebanyak 141 partikel per 2 jam, diikuti oleh Sidoarjo (50 partikel/2 jam), Jombang (16), Surabaya (13), dan Mojokerto (12).

Ecoton juga merilis hasil penelitian mikroplastik di udara yang dilakukan pada Februari dan Mei 2025. Di enam desa di Sidoarjo, ditemukan total 172 partikel mikroplastik, dengan Kecamatan Wonoayu mencatat angka tertinggi, yakni 65 partikel dalam waktu tiga jam. Sedangkan di Pasar Benjeng, Gresik, ditemukan 141 partikel mikroplastik dalam dua jam pengamatan.

Ecoton menyoroti sejumlah penyebab utama pencemaran mikroplastik di udara, antara lain:

• Pembakaran sampah plastik oleh 57% warga Jawa Timur

• Gesekan ban kendaraan dan alas kaki

• Sistem pengelolaan sampah terbuka (open dumping/open burning)

• Emisi industri daur ulang plastik

• Produk rumah tangga dan perawatan pribadi

• Pakaian berbahan polyester

Melihat besarnya ancaman ini, Ecoton mendesak pemerintah untuk segera:

• Menegakkan hukum larangan pembakaran sampah plastik

• Menghentikan pengolahan sampah dengan metode pembakaran

• Mengendalikan sumber-sumber mikroplastik di udara, Menetapkan baku mutu mikroplastik di lingkungan dan produk pangan laut (seafood)

“Kami meminta pemerintah bertindak cepat sebelum masalah ini menjadi krisis kesehatan publik,” tutup Alaika.

 

Pos terkait