GRESIK, Brilian-news.id — Pertanyaan sederhana tentang ikan di Kali Surabaya ternyata belum mudah dijawab oleh para pelajar yang mengikuti SURABAYA RIVER FEST ’26. Dari sekitar 50 peserta jenjang SMA, MA, dan SMK, sebanyak 26 peserta belum mengetahui jenis ikan lokal yang hidup di Kali Surabaya, sementara 24 peserta lainnya sudah mengenalnya.
Temuan itu muncul dalam kegiatan yang digelar Ecoton pada Senin (21/9) di Galeri Suaka Ikan Wringinanom Dusun Krajan, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Alih-alih memberikan materi melalui ceramah, peserta justru diajak menjadi “River Detective” untuk mencari petunjuk, berdiskusi, membaca kondisi sungai, dan memecahkan kasus tentang kehidupan di Kali Surabaya.
Galeri Suaka Ikan Wringinanom adalah kawasan bantaran sungai yang disulap Ecoton menjadi wahana edukasi dan riset yang mengenalkan tentang keanekaragaman ikan. Dalam Taman Suaka ikan ini terdapat beberapa wahana edukasi
1. Galeri foto dan poster yang mengenalkan keanekaragaman hayati ikan Kali Surabaya
2. kolam ikan yang mengenalkan ikan lokal kali surabaya seperti Rengkik, montho, bader abang, wader dan keting. 2 kolam dengan diameter 5 meter ini segaja disediakan untuk media pembelajaran
3. dermaga titik pantau kualitas air. Dalam taman suaka ikan terdapat dermaga dengan ukuran 6 x 6 meter yang dilengkapi alat uji kualitas air seperti DO meter, TDS meter, pH meter dan uji senyawa polutan air
4. Ruang diskusi yang dilengkapi tenda berukuran 9 x 6 meter yang mampu menampung 60-80 orang
Kegiatan dimulai sekitar pukul 09.30 WIB dan dipandu oleh MC, Ayu. Setelah pembukaan, peserta mengikuti pemaparan yang disampaikan Amalia Fibrianty, Program Koordinator PETRO-TIRTA ECOTON.
Amalia mengatakan pengenalan sungai kepada generasi muda perlu dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan di dalamnya, termasuk keberadaan ikan lokal.
“Kita ingin generasi sekarang ini tahu pentingnya sungai, dan sekarang banyak kasus-kasus yang terjadi,” ujar Amalia.
Menurutnya, masih ada pelajar yang belum mengetahui bahwa Kali Surabaya menjadi habitat berbagai jenis ikan lokal.
“Kita pengen teman-teman tahu bahwa Kali Surabaya punya ikan lokal. Pengetahuan tentang ikan itu kurang, makanya di sini kita pengen memberi mereka pengetahuan bahwa ikan itu penting untuk sungai,” jelasnya.
Sebelum masuk ke permainan utama, peserta terlebih dahulu berperan sebagai “agen”. Mereka menuliskan nama, asal sekolah, kemudian memilih salah satu ikan lokal Kali Surabaya sebagai fish code name atau nama samaran. Peserta juga diminta menjelaskan alasan memilih ikan tersebut.
Beberapa sekolah mengirimkan perwakilan untuk mengikuti sesi tersebut, antara lain MA Raden Paku Wringinanom, SMA Negeri 1 Wringinanom, SMA Negeri 1 Driyorejo, dan SMA Negeri 1 Tarik. Salah satu perwakilan MA Raden Paku memilih ikan tombro sebagai nama ikan yang disukainya.
Setelah sesi tersebut, peserta melakukan permainan berhitung dari angka satu hingga tiga. Mereka yang mendapatkan angka sama kemudian bergabung menjadi satu tim. Tiga kelompok yang terbentuk adalah Tim Iwak Bader Abang/Merah, Tim Iwak Muntho, dan Tim Iwak Jendil.
Setelah saling berkenalan, ketiga kelompok mulai menjalani tiga misi secara bergantian di sejumlah post.
Misi pertama, Find the Fish atau Kenali Ikan, berlangsung di Pos 1 bersama Kak Jessica. Peserta diajak mengenali ikan lokal melalui sejumlah petunjuk. Mereka harus mencari tahu ikan apa yang mereka lihat, apa makanannya, habitat seperti apa yang dibutuhkan, serta mengapa keberadaan ikan tersebut penting dalam ekosistem sungai.
Pada misi berikutnya, Read the River, peserta bersama Kak Zahwa diajak melihat kondisi sungai dari sudut pandang ikan. Mereka mencari tahu apa saja yang dibutuhkan ikan untuk bertahan hidup dan apa yang dapat mengganggu kehidupan di habitatnya.
“Kalau kalian adalah ikan, sungai seperti apa yang kalian pilih?” menjadi salah satu cara peserta diajak melihat sungai dari perspektif yang berbeda.
Misi ketiga, Find the Solution, dilakukan bersama Kak Joy. Setelah mengenali ikan dan membaca kondisi sungai, peserta diajak memikirkan solusi yang dapat dilakukan untuk membantu menjaga kelestarian ikan dan sungai.
Di setiap post, peserta mendapatkan lembar pertanyaan yang harus dijawab secara berkelompok. Mereka terlebih dahulu membaca informasi pada banner, kemudian bertanya kepada penjaga post untuk memperoleh informasi atau clue tambahan.
Dari seluruh rangkaian tersebut, peserta diminta menghasilkan tiga hal utama, yakni mengenali ikan, membuat laporan kondisi sungai, dan mencatat solusi yang dapat dilakukan untuk menjaga sungai.
Setiap kelompok mendapatkan waktu sekitar lima menit pada masing-masing post sebelum berpindah ke post berikutnya. Pergantian kelompok diarahkan oleh tim keeper sehingga seluruh peserta dapat mengikuti ketiga misi secara bergantian.
Bagi Amalia, pengenalan ikan bukan sekadar mengenalkan nama dan bentuk. Ikan menjadi pintu masuk untuk memahami kondisi sungai secara lebih utuh.
“Kali bisa memulihkan dirinya sendiri kalau ikan-ikan lokal berkembang biak dengan baik,” katanya.
Ia juga menyampaikan pesan tentang posisi sungai dalam kehidupan.
“Sungai sebagai kehidupan dunia.”
Amalia atau yang akrab disapa Kak Amel mengatakan ECOTON ingin masyarakat, termasuk para pelajar, tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi ikut berpartisipasi menjaga sungai dan ikan.
“Tak hanya mengenalkan ikan lokal, kita ingin masyarakat dan juga para pelajar untuk berpartisipasi dan bergerak sama menjaga kelestarian sungai dan ikan demi masa depan Kali Surabaya.”
Pendekatan melalui permainan membuat peserta harus aktif mencari informasi, bertanya, berdiskusi, dan mengambil kesimpulan bersama. Bagi sejumlah peserta, pengalaman tersebut juga menjadi kesempatan untuk belajar di luar sekolah dan berinteraksi dengan siswa dari sekolah lain.
Natasya Setya Ramadhani dari MA Raden Paku mengatakan kegiatan tersebut memberinya pengetahuan baru sekaligus teman baru.
“Setelah mengikuti kegiatan, saya mendapat hal baru, menemukan banyak teman baru dari sekolah lain dan juga pengetahuan baru mengenai melestarikan lingkungan dan ikan yang ada di Kali Surabaya ini,” ujar Natasya.
Hal serupa disampaikan Prabaswara Raditya dari SMA Negeri 1 Driyorejo. Menurutnya, belajar di luar lingkungan sekolah menjadi salah satu hal menarik dari kegiatan tersebut.
“Hal seru yang didapatkan bisa berkenalan dengan teman baru dan dapat belajar di luar sekolah agar tidak jenuh,” kata Prabaswara.
Sementara itu, panitia Lid Deborah Hanung Widodo mengatakan SURABAYA RIVER FEST 2026 bertujuan memperkenalkan ikan lokal Kali Surabaya kepada masyarakat sekaligus memberikan pengetahuan mengenai lingkungan.
“Tujuan acara ini yaitu memperkenalkan ikan lokal Kali Surabaya kepada masyarakat umum dan juga memberikan pengetahuan baru mengenai meminimalisir penggunaan sampah plastik dan mencari solusi untuk tetap menjaga kelestarian ikan Kali Surabaya,” ungkap Lid.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi peserta dan membuat mereka semakin peduli terhadap ikan lokal serta kondisi Kali Surabaya.
“Harapan saya adalah dengan adanya kegiatan ini bisa memberikan manfaat kepada anak-anak peserta untuk tetap aware terhadap ikan lokal dan Kali Surabaya.”
Setelah seluruh misi selesai, rangkaian kegiatan tidak berhenti pada permainan. Para siswa kemudian menandatangani kesepakatan bersama untuk ikut mewujudkan aliran sungai yang bersih demi kelestarian sungai dan ikan.
Penandatanganan tersebut menjadi bentuk komitmen peserta setelah mereka mengenali ikan, membaca kondisi sungai, dan mencari solusi selama rangkaian River Detective.
Dari pertanyaan sederhana tentang siapa yang hidup di sungai, peserta kemudian diajak melihat lebih jauh apa yang dibutuhkan ikan dan seperti apa kondisi sungai yang menjadi habitatnya. Proses itu membawa mereka pada satu kesimpulan bahwa keberadaan ikan tidak dapat dipisahkan dari kondisi sungai.
SURABAYA RIVER FEST 2026 pun ditutup dengan sebuah komitmen: kasus River Detective boleh selesai, tetapi upaya menjaga Kali Surabaya tidak berhenti di ruang kegiatan.





