Brilin°Malang || Usai reda dari hujan deras, kegiatan di arena Rise and Shine 108 di kawasan Kayutangan Heritage, Minggu malam (5/6/2022) dilanjutkan.
Masyarakat tetap menunggu lanjutan acara yaitu lighting show, tari modern dan fashion on the street.
Kegiatan dilangsungkan di jalan dibawah JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) Kayutangan.
Kerumuman orang membuat tak semua warga bisa melihat fashion on the street dari dekat.
“Andai ada layar besar dipasang di lokasi, pasti penonton tidak berkerumun. Sehingga karya yang ditampilkan bisa dilihat dengan enak,” kata Dina Tiara, penonton.
Fashion on the street mengajak komunitas Malang Tahes Club (MTC).
Selain istri Walikota Malang, Widayati Sutiaji juga ada Direktur Matos, Bank Jatim dll.
“Kita mengajak komunitas MTC. Kita ingin publikasi fashion kita. Ini sesuai tagline Pak Walikota Malang yaitu dari Malang untuk indonesia dan dunia,” katanya.
Desainer baju wanita adalah Andy Sugix dan Febby Antique. Juga ada desainer muda Farhan.
“Saya pakai busana tema kolonial. Dari Mbak Febby pakai batik Malang sebagai local wisdomnya. Kenapa kolonial? Karena kita di heritage Kayutangan. Bahkan Bu Bupati Gianyar ingin ke heritage Kayutangan karena viralnya. “Saya bilang, jangan dulu. Ini masih 50 persen. Nanti saya undang datang,” kata Widayati pada wartawan.
Dikatakan, karena sudah level satu di Kota Malang, maka diadakan gebyar ini.
Sedang untuk aksesoris yang dipakai adalah Eva Unique. Juga ada busana buat pria yang ditampilkan.
“Saya sudah prediksi acara ini ramai. Rencana akan diadakan sua bulan sekali,” kata Ketua Dekranasda Kota Malang ini.
Efek domino acara ini adalah banyak pembeli di UMKM. Untuk produk-produk fashion, di Kota Malang ada Indonesia Fashion Chamber.
Belum lagi produk anak-anak SMK yang bagus banget.
“Nanti akan kita gandeng juga,” jawabnya.
Andy Sugix, desainer Malang mengeluarkan beberapa koleksi. Konsep yang dihadirkan setelah belajar sejarah dan akhirnya jadi busana. Ia menggarap busana pria dan wanita sekitar 27 buah.
Sedang Eva Unique selain aksesoris kalung juga tas-tas kolonial etnik.





