BHS Minta Transportasi Publik di Kawasan Danau Toba Diperkuat

Sabtu, 5 Sep 2026 10:08 WIB
BHS Minta Transportasi Publik di Kawasan Danau Toba Diperkuat

JAKARTA — Bambang Haryo Soekartono (BHS), anggota DPR RI, mendorong pemerintah memperkuat sistem transportasi publik di kawasan Tapanuli Utara dan Danau Toba. Ia menilai keterbatasan angkutan umum antardestinasi menjadi salah satu hambatan dalam mengembangkan kawasan tersebut sebagai tujuan wisata unggulan.

Menurut BHS, potensi wisata di Tapanuli Utara dan sekitar Danau Toba sangat besar. Namun, potensi tersebut belum memberikan hasil maksimal karena wisatawan masih menghadapi keterbatasan akses ketika ingin berpindah dari satu destinasi ke destinasi lainnya.

Kondisi itu membuat wisatawan cenderung mengandalkan kendaraan pribadi. Bagi BHS, ketergantungan terhadap kendaraan pribadi tidak hanya menyulitkan wisatawan, tetapi juga dapat membuat biaya perjalanan menjadi lebih tinggi.

Bacaan Lainnya

Ia menilai pemerintah perlu membangun konektivitas transportasi yang memungkinkan wisatawan mengakses berbagai destinasi secara lebih mudah dan efisien.

“Harusnya tempat atau destinasi wisata yang ada di wilayah atau pusatnya destinasi wisata tidak boleh bercampur dengan rumah penduduk atau warung-warung liar,” kata Bambang Haryo.

Menurutnya, pengembangan transportasi harus berjalan bersama dengan pembenahan tata ruang. Kawasan wisata perlu memiliki penataan yang jelas agar kegiatan pariwisata, permukiman, dan perdagangan tidak saling tumpang tindih.

BHS menilai kawasan yang tertata akan memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi wisatawan. Ia mencontohkan pola penataan ruang pada era kolonial Belanda yang memisahkan kawasan hunian, perdagangan, dan pariwisata.

“Mereka menata betul lokasi-lokasi itu. Perumahan ya perumahan untuk warga, tetapi untuk bisnis perdagangan tersendiri, pariwisata tersendiri. Ini yang tidak dilakukan di sini sehingga kurang menarik,” ujarnya.

Selain transportasi, BHS juga melihat kebutuhan akomodasi sebagai pekerjaan rumah yang harus mendapat perhatian. Berdasarkan perkiraannya, jumlah hotel dan penginapan berbintang maupun nonbintang di Tapanuli Utara baru sekitar 24 unit.

Keterbatasan penginapan tersebut dinilai perlu dibenahi jika pemerintah ingin meningkatkan lama tinggal wisatawan. Semakin banyak pilihan akomodasi yang tersedia, semakin besar pula peluang wisatawan untuk menikmati berbagai destinasi di kawasan tersebut.

Dengan luas wilayah sekitar 3.500 kilometer persegi, BHS menilai Tapanuli Utara memiliki ruang yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi kawasan pariwisata yang lebih terintegrasi.

Ia berharap pemerintah menyusun pembangunan secara terpadu, mulai dari transportasi publik, infrastruktur dasar, tata ruang hingga fasilitas wisata. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat Danau Toba, tetapi juga memiliki kemudahan menjangkau berbagai destinasi lain di sekitarnya.