Bambang Haryo Soroti YIA: Mahal, Sepi, dan Rawan Bahaya, Harus Segera Diaudit

Kamis, 3 Jul 2025 11:17 WIB
Bambang Haryo Soroti YIA: Mahal, Sepi, dan Rawan Bahaya, Harus Segera Diaudit
Bambang Haryo di Bandara Adisucipto Yogyakarta

YOGYAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, melayangkan kritik tajam terhadap keberadaan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo. Menurut politisi Fraksi Gerindra itu, bandara tersebut tidak hanya sepi peminat, tetapi juga menyimpan sejumlah persoalan fundamental yang dapat membahayakan keselamatan publik dan menimbulkan kerugian negara.

“Bandara Kulon Progo ini sebenarnya sangat merugikan, bukan menguntungkan masyarakat yang akan menuju ke Yogyakarta, dibanding mereka yang mendarat di Bandara Adisutjipto. Terbukti sekarang ini Bandara Kulon Progo menjadi sangat sepi diminati masyarakat,” ujar Bambang Haryo, Rabu (2/7).

Dia menilai, masyarakat dari wilayah Jawa cenderung lebih memilih moda transportasi kereta api ketimbang pesawat terbang, mengingat waktu tempuh yang lebih efisien serta minimnya konektivitas transportasi dari YIA ke pusat kota Yogyakarta.

Bacaan Lainnya

“Jarak dari Jogja ke bandara dengan kendaraan 1,5 jam, dan dengan kereta api sekitar 1 jam,” terangnya. Ia juga menyebut jadwal kereta api dan penerbangan tidak selaras, sehingga menyulitkan penumpang.

Bambang, yang juga Dewan Pakar DPP Partai Gerindra, menyebut pembangunan YIA sebagai proyek yang boros dan tidak efisien. Dengan anggaran sebesar Rp11–12 triliun, dia membandingkannya dengan Bandara Kertajati di Majalengka yang berbiaya jauh lebih murah meski memiliki luas dua kali lipat.

“Ini perlu dilakukan audit, kenapa bisa semahal itu, padahal luas bandara lebih kecil, spesifikasi runway dan jumlah garbaratanya hampir sama,” ujarnya.

Selain dari sisi efisiensi anggaran, Bambang juga mengkritisi letak geografis bandara yang dinilainya berisiko tinggi terhadap bencana alam. Lokasinya yang berada dekat dengan pantai selatan berpotensi terdampak tsunami akibat gempa megathrust dari Lempeng Indo-Australia.

“Bandara ini sangat dekat dengan pantai selatan. Tsunami setinggi 13 meter pernah terjadi 200 tahun lalu. Tanahnya juga rawan likuifaksi. Jika itu terjadi, infrastruktur bandara bisa hancur,” tegasnya.

Masalah lainnya, lanjut Bambang, adalah potensi gangguan terhadap pesawat akibat pasir pantai dan butiran garam yang terbawa angin laut. Hal itu dapat merusak turbin pesawat dan mengganggu operasional penerbangan, terutama saat musim angin selatan.

“Runway-nya hanya sekitar 500 meter dari bibir pantai. Ini membahayakan turbin pesawat. Apalagi saat musim angin dari selatan ke utara. Ini bisa menyebabkan kerusakan mesin dan kemacetan operasional,” katanya.

Selain gangguan dari laut, kondisi geografis darat pun tidak ideal. Ia menyoroti adanya dua sungai besar, Serang dan Bogowonto, yang berpotensi menyebabkan banjir saat debit air tinggi dan terjadi pasang laut secara bersamaan.

“Kalau runway-nya tergenang air, itu bisa membahayakan dan menyebabkan pesawat overshoot saat mendarat,” tambahnya.

Bambang mengaku sudah menyuarakan kekhawatiran ini sejak awal masa pembangunan YIA ketika ia masih duduk di Komisi VI DPR RI. Ia bahkan menyebut bahwa konsep bandara yang sejajar dengan bibir pantai seperti itu belum pernah diterapkan di bandara lain karena sangat berisiko.

“Ombak pantai bisa menimbulkan butiran garam yang masuk ke turbin. Tidak hanya pasir, air garam pun bisa merusak,” katanya.

Ia mendesak agar pemerintah segera melakukan audit menyeluruh dan kajian ulang atas proyek YIA. Menurutnya, jika terbukti tidak layak, tidak ada pilihan lain selain menutup bandara tersebut dan mengembalikan operasional penerbangan ke Bandara Adisutjipto.

“Sudah waktunya bandara ini dilakukan kajian dan audit mendalam. Walaupun sudah terlambat, tetapi karena menyangkut keselamatan publik, tidak ada kata terlambat. Bila perlu, ditutup dan dikembalikan ke lokasi semula di Adisutjipto,” tegasnya.

Menurut Bambang, hingga kini belum ada penerbangan pesawat berbadan lebar (wide body) yang beroperasi secara rutin di YIA, meskipun fasilitas seperti garbarata untuk jenis pesawat itu sudah tersedia. Justru yang lebih banyak mendarat adalah pesawat jenis narrow body.

“Adisutjipto adalah bandara yang paling layak. Integrasi moda transportasinya sangat baik, mulai dari bus hingga kereta api yang terkoneksi langsung. Jadi, kembalikan saja demi keselamatan publik,” pungkasnya.

Pos terkait