BHS: Indonesia Harus Hentikan Ketergantungan Impor Gula

Selasa, 2 Jun 2026 14:32 WIB
BHS: Indonesia Harus Hentikan Ketergantungan Impor Gula
Anggota Komisi VII DPR-RI Bambang Haryo Soekartono di Gedung DPR-RI Jakarta/Istimewa

SIDOARJO – Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) menegaskan bahwa Indonesia harus segera mengurangi bahkan menghentikan ketergantungan terhadap impor gula. Langkah tersebut dinilai penting untuk mewujudkan kedaulatan pangan sekaligus mengembalikan kejayaan industri gula nasional yang pernah menjadi kebanggaan bangsa.

Menurut BHS, sejarah mencatat Indonesia pernah menjadi salah satu kekuatan utama industri gula dunia. Pada masa Hindia Belanda, produksi gula nasional mampu menempatkan Indonesia sebagai eksportir gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba dengan volume ekspor rata-rata mencapai tiga juta ton per tahun.

“Prestasi ini menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri bahkan menjadi pemain utama di pasar internasional,” kata BHS.

Bacaan Lainnya

Ia menjelaskan bahwa Kabupaten Sidoarjo menjadi salah satu contoh daerah yang memiliki kontribusi besar terhadap kejayaan tersebut. Pada masa lalu, terdapat sekitar 15 pabrik gula yang beroperasi di wilayah Sidoarjo dan menjadi pusat produksi penting di Jawa Timur.

BHS menilai kondisi saat ini seharusnya menjadi perhatian bersama. Di tengah kesuburan tanah dan potensi pertanian yang besar, Indonesia justru masih melakukan impor gula untuk memenuhi kebutuhan nasional. Padahal, menurutnya, kondisi geografis Indonesia lebih mendukung dibandingkan beberapa negara yang kini menjadi produsen gula terbesar di Asia Tenggara, seperti Thailand.

Karena itu, ia mendorong adanya kebijakan yang lebih berpihak kepada petani tebu dan industri gula nasional. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas lahan, peremajaan pabrik gula, penerapan teknologi modern, hingga jaminan harga yang menguntungkan petani.

Selain swasembada, BHS juga menyoroti tingginya harga gula di pasaran yang dinilai membebani masyarakat. Ia berharap pemerintah dapat menyesuaikan harga eceran gula dengan daya beli masyarakat tanpa mengorbankan keberlangsungan industri.

“Tujuan akhirnya adalah masyarakat mendapatkan gula dengan harga yang terjangkau, petani sejahtera, dan negara tidak lagi bergantung pada impor,” tegasnya.

BHS optimistis Indonesia mampu mencapai target tersebut apabila seluruh pemangku kepentingan bekerja secara terintegrasi dan konsisten dalam membangun sektor pergulaan nasional.

Pos terkait