Brilian*Afghanistan – Kekuasaan Taliban di Afghanistan semakin membatasi gerak perempuan. Kendati kelompok garis keras ini berjanji mereka kali ini berbeda dari saat mereka berkuasa pada 1995-2001, namun moderasi yang mereka janjikan sebatas pemanis bibir belaka.
Pada Minggu (26/12), otoritas Taliban menyampaikan perempuan yang bepergian sendiri jangan diberikan tumpangan, kecuali mereka ditemani mahram atau anggota keluarga laki-laki sebagai pendamping.
Imbauan itu, yang dikeluarkan Kementerian Amar Maruf Nahi Munkar, juga menyerukan semua pemilik kendaraan agar hanya menawarkan tumpangan para perempuan yang memakai jilbab.
“Perempuan yang bepergian lebih dari 45 mil (72 kilometer) tidak boleh ditawarkan tumpangan jika mereka tidak ditemani anggota keluarga dekat,” kata juru bicara Kementerian Amar Maruf Nahi Munkar, Sadeq Akif Muhajir kepada AFP pada Minggu, secara khusus menyebut perempuan harus didampingi mahram atau kerabat laki-laki terdekat.
Imbauan terbaru yang beredar di jaringan media sosial ini dikeluarkan beberapa pekan setelah kementerian tersebut meminta saluran televisi Afghankistan berhenti menayangkan drama dan sinetron yang menampilkan aktor perempuan.
Kementerian Amar Maruf Nahi Munkar juga menyerukan jurnalis televisi memakai jilbab saat liputan atau laporan, seperti dikutip awak media ini.
Muhajir menyampaikan, jilbab juga akan diwajibkan bagi perempuan yang menggunakan transportasi. Direktif tersebut juga meminta warga berhenti memutar musik dalam kendaraan mereka.
Interpretasi Taliban soal jilbab atau hijab – apakah yang menutup kepala sampai cadar atau menutup seluruh tubuh – masih belum jelas, dan mayoritas perempuan Aghanistan memang memakai penutup kepala.
Pengakuan internasional
Sejak mengambil alih kekuasaan pada Agustus lalu, Taliban telah menerapkan berbagai pembatasan terhadap perempuan dan anak perempuan, kendati berjanji akan lebih moderat.
Di beberapa provinsi, otoritas lokal Taliban diminta untuk membuka kembali sekolah-sekolah, tapi masih banyak anak perempuan yang tidak diizinkan sekolah.
Awal bulan ini, Taliban menerbitkan dekrit atas nama pemimpin tertinggi menginstruksikan pemerintah menegakkan hak-hak perempuan.
Namun dekrit itu tidak menyebut soal akses pendidikan anak perempuan.
Para aktivis berharap perjuangan Taliban untuk mendapatkan pengakuan internasional dan mendapatkan kembali aliran bantuan akan mendorong mereka memberikan kelonggaran untuk perempuan.
Sejumlah lembaga donor utama global mengatakan menghormati hak-hak perempuan menjadi syarat untuk mencairkan dana bantuan.
Dalam kekuasaan Taliban pada 1995-2001, perempuan dilarang bekerja dan sekolah. Para perempuan Afghanistan harus memakai burka yang menutupi seluruh wajah dan hanya diizinkan keluar rumah jika ditemani mahram.





