Problematika Air Bersih Jakarta

Senin, 27 Des 2021 12:07 WIB
Problematika Air Bersih Jakarta
Ilustrasi penjual air nersih keliling

Brilian*Jakarta – Sapri sudah harus antre untuk mengisi jeriken dengan air bersih sejak jam lima pagi. Selepas azan subuh, setiap hari. Mendorong gerobak berisi 16 jeriken kosong ke depot penampungan air bersih.

Satu per satu jeriken diisi penuh air bersih. Lalu dia merogoh uang dalam kantong. Harga dua jeriken air bersih sekitar Rp4.000-5.000. Setelah semua terisi penuh, Sapri mulai berkeliling permukiman padat penduduk. Ada pelanggan yang harus disambangi setiap hari.

Pelanggannya tidak hanya rumah tangga, tapi juga warung makan. Dalam sehari, Sapri bisa berkeliling 6-7 kali. Menjual 100 jeriken untuk kebutuhan air bersih warga. Rata-rata, dibeli oleh pelanggannya.

“Itu biasanya yang sudah langganan dari tahun 1982,” ujar Sapri saat berbincang dengan merdeka.com akhir pekan lalu.

Sampai hari ini, sudah 39 tahun Sapri menjual air bersih keliling. Dia merasakan betul perubahan yang terjadi. Dulu, air bersih sedikit jumlahnya, namun pelanggan banyak. Berbanding terbalik saat ini. Bukan lantaran kebutuhan air bersih berkurang. Tapi pelanggannya banyak yang beralih membeli air galon, air kemasan dan juga berlangganan air dari PAM.

Dari data PAM Jaya, selama 2013–2019 pelanggan air bersih terus meningkat tiap tahunnya. Pada 2019, jumlah pelanggan air bersih sebanyak 878.268 pelanggan. Jumlah produksi dan kubikasi air yang terjual masing-masing sebesar 631,96 juta meter kubik dan 362,63 juta meter kubik. Artinya, setiap satu pelanggan PAM rata-rata menghabiskan 719,6 meter kubik. Rumah tangga merupakan jumlah pelanggan air bersih terbesar PAM Jaya yaitu 739.944 pelanggan. Atau 99,5 persen dari total pelanggan kelompok non niaga.

Keadaan boleh berubah. Tapi Sapri tetap setia di jalannya. Memenuhi permintaan pelanggannya. Dia meyakini, masih ada yang membutuhkan air bersih dari jeriken yang dibawanya. Soal kualitas air, tak diragukan. “Bersih bagus buat minum,” katanya meyakinkan.

Heri (56), salah satu warga yang memanfaatkan jasa air bersih keliling. Sudah bertahun-tahun dia berlangganan. Dia rela menyisikan uang demi mendapatkan air bersih. Untuk dua jeriken air bersih, dia harus mengeluarkan uang Rp4.000. “Satu pikul itu dua jeriken,” kata Heri.

Bukan tanpa alasan. Warga Pademangan, Jakarta Barat ini punya pengalaman buruk menggunakan air keran untuk minum. Ada buih dalam air dan rasanya yang tak karuan di lidah dan tenggorokan. Air itu tak pernah lagi digunakan untuk minum. Hanya untuk memasak makanan.

“Jadi kalau di sini air bersih susah. Kalau buat minum beli pedagang keliling,” jelasnya pada awak media.

Keyakinan Sapri dan penjual air bersih keliling lainnya tidak salah. Jika melihat data yang ada. Dari data PAM Jaya tahun 2017, kebutuhan standar air bersih kebanyakan orang 150 liter per hari. Setiap tahun, total kebutuhan air bersih seluruh warga Jakarta sebesar 547,5 juta meter kubik. PDAM hanya sanggup menyediakan 54 persen. Ada ruang kosong yang besar yang bisa dipenuhi dari sumber lain.

Data terbaru disampaikan dalam Webinar yang digelar Indonesia Water Institut (IWI) pada Februari 2021. Kebutuhan air bersih semakin tinggi. Pada 2020, kebutuhan air bersih mencapai 995 – 1.415 liter per hari per rumah tangga.

Data Indonesia Water Institut, untuk kebutuhan cuci tangan atau sanitasi individu kini mencapai 20 sampai 25 liter per orang per hari. Kebutuhan air untuk MCK per orang 150-210 liter per hari. Kondisi ini pada saat pandemi. Saat masyarakat menyadari pentingnya kebiasaan hidup bersih.

Penggunaan air bersih untuk rumah tangga juga meningkat. Pada tahun 2019 mencapai 15,41 meter kubik per bulan. Pada tahun 2020 terjadi kenaikan peningkatan pemakaian air sekitar 16 meter kubik per bulan.

Kondisi di atas baru sebatas kebutuhan rumah tangga. Jumlahnya tak seberapa dibanding kebutuhan air bersih di perkantoran dan industri. Termasuk UMKM. Tengok saja di ruang perkantoran, hampir selalu tersedia air galon atau air kemasan.

Pantauan merdeka.com di gedung DPRD DKI Jakarta. Salah satu ruangan di lantai 4, tersedia empat galon cadangan air mineral dan satu galon yang terpasang di dispenser. Itu baru di satu ruangan saja. Untuk kebutuhan di Gedung DPRD DKI Jakarta, setiap dua hari sekali petugas dari produsen air galon mineral selalu mengirimkan pasokan air minum. Media ini mencoba mengonfirmasi total kebutuhan air galon di Gedung DPRD DKI. Namun tidak ada petugas yang bisa memastikannya.

Perbanyak Depot Air Bersih
Dari tingginya kebutuhan air bersih di Jakarta, tidak heran penjualan air keliling masih dibutuhkan warga. Bisnis ini tak memasuki senjakala meski sudah banyak pelanggan yang beralih menggunakan PAM atau PDAM. Ada sekelumit cerita lain di balik penjualan air bersih keliling.

Seperti diceritakan Ratna. Dia adalah suplier yang memasok air bersih untuk pedagang keliling sejak tahun 1975. Dia mendapat air dari PAM Jaya. Bisnis pasokan air bersih tetap dipertahankan karena alasan kemanusiaan.

Dia dalam posisi dilematis. Jika bisnisnya ditutup, maka terputus rantai rezeki untuk pedagang air keliling. Di sisi lain, bisnisnya terbebani operasional yang besar. Tapi Ratna memilih setia pada pedagang air keliling.

“Saya mempertahankan (jual air) karena kasihan tukang air keliling,” kata Ratna.

Pola distribusi air bersih yang dilakukan Ratna dan Sapri memang terkesan tradisional. Namun efektif untuk memenuhi tingginya kebutuhan warga akan air bersih. Terutama bagi mereka yang tidak memiliki kesempatan mendapatkan air bersih langsung dari PAM. Sebab, hampir mustahil membangun jaringan pipa air yang terintegrasi dengan baik seperti di negara maju.

Peneliti LPDP Water Professional, Adipati Rahmat Gumelar menyarankan sistem tradisional tersebut dikembangkan dengan kerja sama PDAM atau PAM. Perusahaan air minum membuat depot-depot air di berbagai wilayah yang terdekat dengan masyarakat. Depot air seperti yang dikelola Ratna. Minimal ada di setiap kelurahan atau kecamatan.

“Jadi tidak harus perlu pakai pipa. Yang penting air sampai ke masyarakat,” tegas Adipati.

Dari sisi pasokan air juga harus diperhatikan. Dasarnya, lagi-lagi soal meningkatnya kebutuhan warga. Pemerintah sudah memiliki data kebutuhan air bersih berdasarkan jumlah penduduk. Sudah jelas perhitungannya. Begitu juga dengan suplai yang tersedia. Air sungai selama ini digunakan dan disuling menjadi air bersih.

Harus membuka sumber-sumber suplai air yang baru. Mendaur ulang dari air hujan atau air laut. Seperti dilakukan di negara maju. Adipati membayangkan keseimbangan dalam pemenuhan pasokan untuk air bersih. Misalnya, 45 persen dari air tanah. Sebesar 25 persen berasal dari air sungai. Sisanya, dari mendaur ulang air hujan dan sumber lainnya.

“Jadi kita tidak terlalu tergantung dengan sungai dan air tanah,” jelas Adipati.

Pola Pikir Tentang Air
Adipati menyoroti pola pikir tentang air. Ketika bicara mengenai uang yang dikeluarkan warga demi kebutuhan air bersih. Sorotan mengarah pada pola penggunaan air untuk kebutuhan bisnis. Dia mencontohkan usaha cuci kendaraan bermotor dan laundry. Sebagian pelaku usaha air masih dianggap gratis.

Air yang digunakan untuk bisnis cuci kendaraan maupun laundry, cukup besar. Namun harga yang dibebankan kepada konsumen cenderung murah. Pola bisnis bermain di sini. Pemilik usaha mengambil air tanah dalam jumlah besar dan tidak membebankan kepada konsumen. Tujuannya agar bisnisnya tetap berjalan lancar. Di sisi lain, ketersediaan air semakin tipis.

“Kegiatan usaha selain minum masih dianggap gratis. Air hampir tidak ada harganya. Padahal air itu bernilai sosial dan bernilai ekonomi,” paparnya.

Dalam pandangannya, perlu perubahan pola pikir. Dibarengi dengan dorongan kebijakan pemerintah. Karena air bersih menjadi kebutuhan banyak orang. Sehingga, air benar-benar dimanfaatkan dengan baik. Semisal, pelaku industri baik besar maupun kecil menghitung kebutuhan mereka. Begitu juga kebutuhan untuk rumah tangga.

“Semuanya bijak kepada air. Menekan kebutuhan air, ketersediaan air kita naik jadinya. Jadi bisa seperti negara-negara maju,” tegasnya mengakhiri perbincangan bersama awak media.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *