Brilian°Sulawesi Tenggara – Bagi La Ode Muhammad Sidik, 87 tahun, umur tidak menghalanginya melanjutkan pendidikan ke jenjang atas.
Dua tahun lalu, bersama dengan ratusan mahasiswa yang rata-rata berumur dua puluhan tahun, La Ode dikukuhkan menjadi sarjana Bahasa Indonesia dari Universitas Muhammadiyah Buton, Baubau, Sulawesi Tenggara.
Ini adalah mimpi yang tertunda bagi La Ode.
Di masa mudanya, pada tahun 50-an, La Ode mengajar di Sekolah Rakyat. Dia lalu diangkat menjadi guru Sekolah Menengah Pertama pada tahun 70-an.
Masa pengabdiannya berakhir saat La Ode pensiun pada awal 2000-an. Namun sebelum pensiun, La Ode menyelesaikan studi D3 jurusan Pendidikan di Universitas Haluoleo (Unhalu) Kendari pada 1992.
Sebelum pensiun pula, niatnya untuk menempuh pendidikan S1 sudah sangat besar. Namun dengan sembilan anak yang harus dibiayai pendidikannya, ia harus menyingkirkan dulu cita-citanya.
Semangatnya tumbuh lagi di tahun 2012. “Anak saya yang pertama [almarhum] yang mengatakan jangan hanya sampai diploma tiga.
Dia memilih jurusan Bahasa dan Sastra, sesuai dengan kegemarannya.
Saat mendaftar menjadi mahasiswa baru itu, La Ode sudah berumur 78 tahun.
Dua tahun menjalani kuliah, setelah menuntaskan Kuliah Kerja Nyata (KKN), La Ode jatuh sakit.
“Saat hendak ujian proposal, saya mulai sakit sehingga ujian itu harus ditunda. Saya sakit selama satu setengah tahun dan harus operasi prostat,” kenangnya.
Tergeletak lemah selama 1,5 tahun juga tidak membuat La Ode menyerah.
“Saya kembali menghubungi kampus untuk masuk kembali. Mereka katakan, boleh asalkan semua tunggakan [biaya] semester dilunasi. Saya bilang, tidak apa-apa asalkan saya diterima kembali,” lanjut La Ode.
Tekadnya yang bulat untuk terus menuntut ilmu ini juga didukung oleh keluarga. Lala, salah satu cucu La Ode yang menemani sang kakek diwisuda, saat diwawancarai oleh media mengatakan sang kakek tak pernah mengeluh.
“Dia usahakan masuk, meskipun kadang sakit dan sudah tua begitu, tapi dia usahakan terus masuk kampus,” kata Lala.
Setelah tujuh tahun, La Ode akhirnya berhasil lulus dengan gelar sarjana. Wa Ode Nurmala, cucunya yang lain, mengaku bangga akan prestasi kakeknya.
“Kakek jadi inspirasi buat kami untuk terus menuntut ilmu. Pendidikan itu tidak mengenal usia, pendidikan itu sampai akhir hayat,” ujar Nurmala kepada wartawan Darul Amri yang melaporkan untuk BBC Indonesia.
Kisah La Ode semakin istimewa karena saat menyusun skripsi, salah satu dosen pembimbingnya adalah mantan muridnya di SMP Kota Baubau.
La Ode mengaku bangga, karena mantan muridnya itu kini telah menjadi “orang-orang besar”.
“Sebenarnya saya yang lebih berterima kasih. Saya didik jadi orang besar, kemudian pengalaman mereka dituangkan lagi ke saya,” lanjut La Ode.
Nadir La Djamudi, pembimbing La Ode, mengatakan saat melihat sosok La Ode di kampus, “Saya kira dia sedang legalisir ijazah.”
Pada 1986, Nadir adalah murid SMP La Ode di sebuah kecamatan di Pulau Wakatobi. Menurutnya, sejak dulu La Ode adalah guru yang inspiratif.
“Dia hafal sejarah sastra, unsur-unsur analisis karya sastra. Dia juga hafal sastra Indonesia di setiap angkatan, dari angkatan ’20-an, ’30-an, sampai angkatan ’45,” kata Nadir.
La Ode menegaskan, usia tidak bisa membatasi niatnya untuk terus belajar.
“Selama kita mampu belajar, ya belajar saja,” kata dia. “Kalau masih ada umur dan memiliki dana, saya masih ingin kembali selesaikan [kuliah] S2,” pungkas La Ode pada awak media mengakhiri perbincangan.





