Sidak Pasar Sidoarjo Bikin Kaget BHS: Beras Berkutu Dijual, APAR Ternyata Kadaluwarsa!

Selasa, 3 Nov 2026 10:25 WIB
Sidak Pasar Sidoarjo Bikin Kaget BHS: Beras Berkutu Dijual, APAR Ternyata Kadaluwarsa!
Sumber foto: Dok. Gerindra

SIDOARJO — Temuan mengejutkan mewarnai inspeksi mendadak (sidak) yang digelar Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), di pasar tradisional Sidoarjo pada Senin (2/11/2026). Legislator ini mendapati komoditas beras berkutu masih diperjualbelikan, ketersediaan Minyakita yang sering langka, hingga kelayakan fasilitas keselamatan pasar yang minim.

BHS menegaskan bahwa jaminan keselamatan dan kebersihan pasar merupakan hak mutlak bagi pembeli dan pedagang. Mengetahui alat pemadam api ringan (APAR) di area pasar sudah kedaluwarsa, ia menyumbang dan mengisi ulang tiga tabung APAR baru secara langsung.

Ia juga menaruh perhatian serius terhadap ketersediaan barang pokok, terutama beras berkutu dan kelangkaan Minyakita. Padahal, pasokan Minyakita dijadwalkan rutin saban pekan.

Bacaan Lainnya

“Minyakita ini harus tersedia terus dan cukup, karena disubsidi pemerintah menggunakan uang rakyat. Jangan sampai barang Bulog identik dengan barang jelek,” kata BHS.

BHS menyatakan telah bergerak cepat dengan mengontak Pimpinan Bulog Wilayah Jawa Timur. Langkah ini diambil agar Bulog segera turun tangan menjaga stabilitas pasokan serta kualitas pangan di Sidoarjo.

Merespons kondisi tersebut, Kepala Bidang Pasar Dinas Perindag Sidoarjo, Setya Handaka, membeberkan bahwa pengelolaan pasar baru saja beralih dari pihak ketiga ke pemda dalam dua bulan terakhir. Ia berjanji akan memperbarui alat keselamatan yang kedaluwarsa pada tahun anggaran berikutnya.

“Pengelolaan pasar ini sebelumnya dilakukan pihak ketiga. Baru dua bulan ini diserahkan ke pemerintah daerah. Jadi, kalau ada APAR yang kedaluwarsa, nanti bisa kita bereskan pada tahun depan,” terang Setya.

Setya memaparkan bahwa pembenahan menyeluruh ini dilakukan guna mengejar target standar pasar ber-SNI pada 2028 mendatang.

Di sisi lain, persoalan klasik berupa minimnya dana perawatan disuarakan Anggota Komisi B DPRD Sidoarjo, Supriyono. Dari alokasi dana sebesar Rp38 miliar, porsi terbesar yakni Rp28 miliar habis terpakai untuk belanja pegawai dan operasional.

Kondisi tersebut menyisakan dana sekitar Rp8 miliar yang harus dibagi untuk membiayai pemeliharaan seluruh pasar rakyat se-Kabupaten Sidoarjo.

“Anggaran kita kecil. Sisa sekitar Rp8 miliar untuk pengeluaran semua pasar se-Sidoarjo. Tidak memungkinkan,” tandas Supriyono seraya mendesak Disperindag segera mengusulkan tambahan anggaran.

Pos terkait