Brilian•BANDUNG – Ribuan langkah menyatu di Dago menuju satu titik perjuangan: mempertahankan keberadaan SMAN 1 Bandung dari ancaman pemindahan atau alih fungsi. Aksi bertajuk “Sekolah Kami Tetap di Sini” yang digelar Sabtu, 20 Juli 2025, menjadi simbol perlawanan damai yang dipelopori Alumni SMANSA Angkatan 1982.
Bukan hanya nostalgia atau ikatan emosional semata, aksi ini merefleksikan keprihatinan bersama atas nasib lembaga pendidikan yang selama puluhan tahun telah menjadi pilar pembentuk karakter anak bangsa.
Rangkaian kegiatan dimulai dari long march komunitas, diikuti parade flashmob, Fun Walk, dan Gowes Alumni SMANSA (GAS), serta penampilan teatrikal “Gerak Merah Putih” dari seniman Aat Suratin yang menyulut semangat nasionalisme peserta. Zumba bersama dan orasi kebudayaan turut menghidupkan suasana halaman sekolah.
Sosok-sosok penting hadir dalam aksi tersebut, seperti Ceu Popong, tokoh budaya sekaligus mantan anggota DPR RI, yang dengan lantang menyerukan pentingnya mempertahankan ruang belajar yang telah berkontribusi besar bagi negeri. Ia menyebut bahwa sekolah bukan hanya bangunan, tapi medan perjuangan nilai.
Acara juga menampilkan diskusi publik yang membedah aspek hukum terkait status tanah SMAN 1 Bandung. Talkshow menghadirkan berbagai unsur: kepala sekolah, alumni, akademisi, hingga perwakilan Biro Hukum Provinsi Jawa Barat. Strategi hukum, advokasi publik, dan penggalangan solidaritas terus diperkuat.
Ketua Alumni SMANSA ’82, Roosnelly, menyampaikan bahwa gerakan ini menolak segala upaya pemindahan sekolah dan mendesak perlindungan hukum terhadap institusi pendidikan negeri.
“Kita tak sedang bicara nostalgia. Ini soal masa depan. Sekolah ini telah mendidik banyak pemimpin, seniman, guru, ilmuwan. Kita punya tanggung jawab untuk menjaganya,” tegasnya.
Konferensi pers di akhir acara memperkuat komitmen semua pihak untuk terus mengawal proses hukum dan membangun kesadaran publik. Pesan kunci dari gerakan ini jelas: jika satu sekolah bisa terancam, maka sekolah lain pun bisa mengalami nasib serupa.
Gerakan #SaveSMANSABandung terus menggelora di berbagai lini, baik digital maupun aksi nyata. Sebuah seruan disampaikan kepada masyarakat luas—jangan biarkan pendidikan digusur tanpa perlawanan. Karena mempertahankan sekolah, adalah menjaga martabat bangsa.**





