Pedagang Tumpah Ruah di PD Pasar Bermartabat, Protes Aturan Baru dan Tuntut Keadilan

Senin, 2 Jun 2025 23:59 WIB
Pedagang Tumpah Ruah di PD Pasar Bermartabat, Protes Aturan Baru dan Tuntut Keadilan

Brilian•BANDUNG — Ratusan pedagang pasar tradisional memadati halaman kantor PD Pasar Bermartabat Kota Bandung di Jalan Sederhana, Senin (2/6/2025). Mereka datang membawa amarah dan keluhan terhadap berbagai kebijakan baru yang dianggap memberatkan dan tidak adil.

Para pedagang, yang berasal dari berbagai pasar di Kota Bandung seperti Pasar Cicaheum, Pasar Sederhana, dan Pasar Ciroyom, menyebut aturan baru yang diberlakukan oleh manajemen PD Pasar tidak masuk akal. Selain kenaikan tarif retribusi harian dan pajak tahunan, mereka juga dikenakan biaya sewa bulanan meskipun masih memegang hak guna usaha (HGU) atas kios yang ditempati.

“Ini bukan hanya soal uang, tapi soal keadilan. Kami punya hak, tapi diperlakukan seolah-olah penyewa liar,” ujar Dede, salah satu pedagang yang ikut dalam aksi.

Bacaan Lainnya

Kemarahan mereka semakin memuncak saat mengetahui bahwa pihak direksi maupun komisaris PD Pasar Bermartabat tidak hadir dalam pertemuan yang digagas oleh Kapolsek Sukajadi dan anggota DPRD Kota Bandung, Folmer. Kekecewaan itu langsung berubah menjadi teriakan lantang dari massa, termasuk seruan “Copot Direksi” hingga permohonan langsung kepada Gubernur Jabar, “Pa Dedi, tolong kami!”

Iwan Suhermawan, Ketua APPKL (Asosiasi Pedagang Kaki Lima), menegaskan bahwa ketidakhadiran manajemen pasar adalah bentuk arogansi dan menambah keresahan pedagang. Ia pun menyampaikan tiga tuntutan utama: penghentian revitalisasi Pasar Ciroyom dan Sederhana, pengaktifan kembali Pasar Suci, dan pemindahan pedagang ke lokasi pasar yang telah selesai direvitalisasi.

Tidak berhenti di sana, massa kemudian bergeser secara tertib ke Kantor Inspektorat Kota Bandung. Di sana, mereka meminta agar dilakukan audit keuangan terhadap PD Pasar Bermartabat karena diduga terjadi penyimpangan dalam pengelolaan dana.

“Kami akan terus menyuarakan ini sampai ada kejelasan. Jangan sampai suara pedagang kecil seperti kami terus diabaikan,” kata Iwan menutup orasinya.**

Pos terkait