Brilian°Nganjuk – Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk mengembangkan desa adalah dengan mendukung produk olahan yang dibuatnya. Hal tersebutlah yang juga diupayakan oleh KKN Mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya di Desa Blongko, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk Jawa Timur. Selasa (28/12/2021)
Dr. Ir. Eko Nurmianto M.Eng.Sc selaku Dosen pembina lapangan dari KKN ini menuturkan jika penyuluhan di Desa Blongko ini dibagi dalam beberapa pelatihan. Pelatihan pertama, Mahasiswa menerima aspirasi petani porang melalui kuesioner dan juga FGD yang digunakan untuk membangun strategi pengembangan. Selanjutnya, diadakan pelatihan kewirausahaan, budidaya, pengemasan, hingga manajemen pemasaran dalam berbisnis porang.
Tak hanya itu, tim KKN ini juga mengadakan pelatihan pengolahan aneka makanan berbasis porang. Umbi tersebut berhasil diolah oleh masyarakat Desa Blongko menjadi Bakso, Jely, Mie, Dawet, hingga Naget porang.
Selain produk olahan yang dipasarkan ke masyarakat, umbi porang disuplai ke pabrik porang terbesar di Nganjuk untuk diproses menjadi keripik (chips) serta tepung porang dan diekspor. Lebih lanjut, bersama dengan lima dosen lainnya, yaitu Dr. Dewi Hidayati S.Si M.Si dan Dr. Drs. Soehardjoepri M.Si dan Dr. Ir. Bambang Sampurno M.T dan Mashuri S.Si M.T, dan Muhammad Nurif S.E, M.T serta 15 mahasiswa Koordinasi Daerah (Korda) Nganjuk, Eko juga memberikan mesin pencacah untuk membuat pupuk yang dapat membantu pembudidayaan porang masyarakat. “Mesin pencacah ini sangat efisien dan portabel untuk digunakan para petani,” ungkap ahli ergonomi tersebut.
Bagi dosen Departemen Teknik Sistem dan Industri ITS tersebut, tidak banyak kendala yang dialami dalam kegiatan penyuluhan. Hal ini lantaran didukung oleh potensi Desa Blongko dalam hal sumber daya alam dan sumber daya manusianya yang terdidik. “Saya menyebut desa ini Desa Jampitapor, desa yang kaya dengan jamur, talas, pisang, dan porang,” ungkapnya sambil tersenyum.
Usai pelaksanaan kegiatan tersebut, Eko berharap Desa Blongko dapat menjadi pusat pembelajaran bagi Departemen Studi Pembangunan ITS dan wilayah pengembangan wirausaha bagi mahasiswa ITS secara umum. “Semoga kelak akan lebih banyak pengembangan wirausaha di desa ini untuk memajukan masyarakatnya,” pungkasnya.





