Brilian•BANDUNG – Gelaran Lomba Kompetensi Pengolahan dan Rekayasa (Lokoper) 2025 kembali menghadirkan semangat baru di kalangan pelajar Kota Bandung. Bertempat di SMP Negeri 9 Bandung, ratusan siswa dari berbagai daerah di Jawa Barat berkumpul untuk menampilkan karya terbaik mereka dalam empat kategori: rekayasa, pengolahan, kerajinan, dan budidaya.
Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, mengatakan bahwa Lokoper bukan sekadar kompetisi, tetapi ruang penting untuk menumbuhkan keberanian siswa dalam berkreasi.
“Yang paling membanggakan dari acara seperti ini adalah keberanian anak-anak untuk mencoba. Di sinilah kita melihat bakat, ide, dan cara berpikir mereka berkembang,” ujarnya.
Tahun ini, sebanyak 225 tim menampilkan inovasi yang unik dan penuh imajinasi. Mulai dari alat rekayasa sederhana untuk kebutuhan rumah tangga, produk pengolahan makanan sehat, kerajinan berbahan daur ulang, hingga karya budidaya yang didesain ramah lingkungan.
Guru pembimbing menyebut, Lokoper telah menjadi ajang favorit karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara langsung melalui praktik.
“Anak-anak biasanya paling antusias ketika harus membuat sesuatu. Mereka merasa punya panggung untuk mengekspresikan ide,” kata salah satu guru peserta.
Tidak hanya siswa, para orang tua dan komunitas pendidikan juga turut hadir memberikan dukungan. Suasana kompetisi pun terasa meriah dengan stand pameran karya, sesi penilaian juri, dan area demonstrasi hasil karya peserta.
Setelah melalui penyisihan dan semifinal, 82 tim berhak tampil di babak final yang digelar pada 8–9 November. Para peserta dinilai berdasarkan kreativitas, kebermanfaatan produk, inovasi, serta kemampuan mempresentasikan karya.
Erwin berharap kegiatan seperti Lokoper dapat terus digelar dan diperluas agar semakin banyak pelajar yang mendapat ruang untuk berekspresi.
“Kalau anak-anak sudah terbiasa berkarya sejak dini, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang percaya diri dan siap menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.
Lokoper 2025 juga mendapat dukungan dari sejumlah lembaga pendidikan, komunitas penggerak pendidikan, dan sponsor swasta—membuktikan bahwa kolaborasi menjadi kunci lahirnya inovasi baru dari para pelajar Kota Bandung.**





