Gresik | Brilian News.id – Nabi Ibrahim dikenal dengan keimanan dan keteguhannya dalam menegakkan tauhid. Ketika hidup di tengah masyarakat penyembah berhala, Ibrahim menghancurkan berhala-berhala mereka kecuali yang terbesar. Tindakannya ini membuat kaumnya marah dan melaporkannya kepada Raja Namrud, yang kemudian memerintahkan agar Ibrahim dibakar hidup-hidup.
Api besar pun dinyalakan, namun atas izin Allah SWT, api itu tidak membakar tubuh Ibrahim. Allah berfirman, “Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya [21]: 69). Api yang seharusnya membakar, justru menjadi dingin dan menyelamatkan Ibrahim.
Peran Cicak, Semut, dan Burung
Dalam riwayat yang disampaikan oleh Imam Bukhari, Rasulullah memerintahkan untuk membunuh cecak karena ia meniup api yang digunakan untuk membakar Nabi Ibrahim, sementara hewan lain berusaha memadamkannya.
Dalam peristiwa ini, beberapa hewan terlibat, seperti cecak, semut, dan burung. Semut berusaha keras membawa butiran air dengan mulutnya untuk memadamkan api, meski seekor burung mencemoohnya, mengatakan bahwa air setetes itu takkan bisa memadamkan api. Semut menjawab, “Setidaknya, semua tahu aku berada di pihak yang benar.”
Sebaliknya, cicak meniup api untuk memperbesarnya, menunjukkan keberpihakannya pada kezaliman. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Dahulu, cicaklah yang meniup dan memperbesar kobaran api yang membakar Ibrahim.” (HR. Muslim).
Hikmah dari kisah ini mengajarkan tentang keberanian, keimanan, dan keteguhan hati dalam menghadapi cobaan.





