Makna dan Sejarah Perayaan Hari Raya Qurban

Senin, 17 Jun 2024 12:42 WIB
Makna dan Sejarah Perayaan Hari Raya Qurban

Brilian News.id – Dengan ditetapkannya awal Zulhijah ini, maka Hari Raya Idul Adha 1445 H jatuh pada Senin depan, 17 Juni 2024.

Dikutip dalam sebuah artikel, Keputusan itu didasarkan dari data posisi hilal di seluruh Indonesia, yaitu ketinggian hilal berkisar antara 7° 15,82′ hingga 10° 41,09′ dan sudut elongasinya 11° 34,83′ hingga 13° 14,47’.

Hari Raya Idul Adha, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Qurban, merupakan salah satu perayaan penting dalam agama Islam. Perayaan ini dirayakan oleh umat Muslim di seluruh dunia untuk memperingati pengorbanan Nabi Ibrahim yang bersedia untuk menyembelih putranya, Ismail, atas perintah Allah SWT. Kisah ini tercantum dalam Al-Quran, Surah As-Saffat ayat 102-107, di mana Ibrahim menerima perintah ilahi untuk mengorbankan putranya sebagai ujian kepatuhannya kepada Allah. Namun, dengan kehendak-Nya, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba sebagai pengganti yang lebih baik.

Bacaan Lainnya

Ayat Al-Quran yang relevan dalam konteks ini adalah:

“Dan ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha membantu bersama-sama Ibrahim, Ibrahim pun berkata: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu; maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Dia menjawab: ‘Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan padamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Dan tatkala keduanya telah berserah diri (kepada Allah), dan Ibrahim menjadikan anaknya bersilaan, lalu Ibrahim pun mengangkat kedua tangannya (untuk menyembelihnya), dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-Saffat: 102-107)

Secara harfiah, Idul Adha berarti “hari pengorbanan”. Peristiwa ini mengajarkan nilai kesetiaan, kepatuhan, dan pengorbanan dalam menjalani perintah Allah. Umat Muslim merayakan Idul Adha dengan menyembelih hewan ternak seperti domba, sapi, atau kambing, yang kemudian diberikan kepada keluarga, tetangga, dan mereka yang membutuhkan. Sebagian dari daging ini juga disumbangkan kepada yang kurang mampu, sehingga semua orang dapat merasakan kebahagiaan Idul Adha.

Praktik qurban dalam Islam juga didasarkan pada hadis yang menguatkan pentingnya pengorbanan hewan sebagai bentuk ibadah yang dicintai oleh Allah. Dalam salah satu Hadist disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud:

“Tidak ada amalan yang lebih dicintai oleh Allah di hari raya qurban dari pada mengorbankan hewan. Dan sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kuku-kukunya. Hewan tersebut akan meningkatkan timbangan amal perbuatan seseorang. Dan sesungguhnya darahnya mencapai tempat-tempat yang paling utama di sisi Allah sebelum rambut-rambutnya kering.”

Perayaan Idul Adha jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah, yang merupakan bulan terakhir dalam kalender Islam. Tradisi ini berakar dari kisah Nabi Ibrahim yang merupakan salah satu nabi utama dalam Islam, yang mendapat julukan “Khalilullah” yang berarti “Sahabat Allah”.

Meskipun Idul Adha identik dengan pengorbanan hewan ternak, yang secara simbolis menggambarkan kesediaan untuk berkorban dalam rangka taat kepada Allah, perayaan ini juga membangun solidaritas dan kepedulian sosial di antara umat Muslim. Setiap tahunnya, jutaan keluarga Muslim di seluruh dunia merayakan Idul Adha dengan penuh sukacita dan kebersamaan.

Perayaan Idul Adha tidak hanya menjadi momen spiritual bagi umat Muslim tetapi juga menjadi wujud nyata dari nilai-nilai sosial, kepedulian, dan keadilan dalam masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *