KAIRO ° Brilian News.id — Langkah konkret memperluas jejaring pendidikan Islam internasional ditunjukkan pimpinan Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) eLKISI, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, melalui kunjungan resmi ke Universitas Al-Azhar, Mesir, pada 4–14 April 2026.
Momentum penting dalam kunjungan tersebut terjadi pada Kamis (9/4/2026), saat rombongan eLKISI menggelar pertemuan strategis dengan Rektor Al-Azhar, Prof. Dr. Salamah Daud. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat namun sarat substansi, menandai penguatan diplomasi pendidikan berbasis nilai-nilai Islam moderat dan inklusif.
Rombongan dipimpin Direktur Ma’had eLKISI, K.H. Dr. Fathur Rohman, bersama Dr. Khairul Warizin, serta didampingi Ustaz Abyanrafa, Ustaz Muchtar, dan Syekh Ahmad Abdul Adzim Al-Azhary selaku musyrif Markaz Lughah eLKISI.
Selain Rektor, pertemuan juga dihadiri Nahla Shabry Al-Saidi, penasihat Grand Syekh Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmed Al-Tayyeb, yang menangani urusan mahasiswa asing.
Dalam dialog tersebut, pihak Al-Azhar mengungkapkan telah mengenal eLKISI melalui jejaring akademik yang dibangun sebelumnya. Hal ini mempertegas bahwa eksistensi lembaga pendidikan asal Indonesia tersebut mulai mendapat perhatian di kancah internasional.
Menariknya, pertemuan juga menyoroti hubungan timbal balik dalam bidang bahasa.
Di Indonesia, eLKISI aktif mengajarkan bahasa Arab, sementara di Al-Azhar, bahasa Indonesia justru menjadi salah satu bidang studi yang berkembang pesat. Fakultas Bahasa Indonesia di Al-Azhar tercatat sebagai fakultas ke-15 dengan jumlah mahasiswa mencapai ratusan orang. Hal tersebut merupakan indikator kuat meningkatnya minat terhadap bahasa dan budaya Indonesia.
Diskusi tidak berhenti pada tataran seremonial. Kedua pihak membahas peluang kolaborasi yang lebih konkret, mulai dari penguatan kurikulum, pertukaran akademik, hingga pengembangan pusat bahasa dan riset keislaman lintas negara.
Direktur eLKISI, Fathur Rohman, menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari strategi menghadapi tantangan global pendidikan Islam yang semakin kompleks.
“Penguatan jejaring internasional menjadi kebutuhan mendesak. Pendidikan Islam tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus dibangun melalui kolaborasi dan pertukaran gagasan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, relasi antara eLKISI dan Al-Azhar bukan sekadar hubungan institusional, melainkan bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Kunjungan ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi kerja sama yang lebih konkret dan produktif, sekaligus mempertegas posisi eLKISI sebagai lembaga pendidikan yang aktif membangun konektivitas global.

Lebih dari itu, sinergi yang terjalin diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam akhlak dan siap menghadapi dinamika dunia modern.





