Gresik | Brilian News.id – ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation) mempromosikan program AKSI BRANTAS pada acara WWF10 di Bali, Minggu 26/5/2024. dengan menekankan pentingnya peran perempuan dan anak dalam pemulihan kualitas air sungai.
“Perempuan dan anak adalah kunci pemulihan kerusakan sungai di Indonesia. Perempuan memegang kendali pengelolaan sampah yang menjadi problem utama polusi plastik di sungai, sementara generasi Z memiliki pengaruh besar dalam mempromosikan perubahan,” ungkap Thara Bening Sandrina
koordinator River Warrior dari jaringan AKSI BRANTAS. Mahasiswa semester 8 jurusan Kelautan dan Perikanan Unair ini juga menjelaskan bahwa gerakan perubahan oleh anak muda dapat mempengaruhi kebijakan, seperti yang ditunjukkan oleh gerakan Pandawara dan aksi Aeshnina “Greta Indonesia” yang aktif menolak sampah impor. Kedua aksi ini memicu sentimen publik dan pembuat kebijakan.
Pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air masih terbatas pada lembaga koordinasi formal yang kurang memberikan akses informasi dan partisipasi luas. Komposisi anggota forum koordinasi dari elemen masyarakat perempuan dan anak seringkali belum terwakili, dan pengelolaan sumber daya air masih didominasi oleh kepentingan korporasi serta pembangunan infrastruktur pengairan yang seringkali mengabaikan pelibatan masyarakat. Hal ini memicu ketidakadilan, pelanggaran hak asasi manusia, dan kerusakan lingkungan yang merugikan masyarakat lokal.
Salah satu tema dalam WWF10 yang membahas pelibatan penuh semua pemangku kepentingan adalah sesi tematik T1E2 tentang Penanganan Pencemaran Air dengan perencanaan berbasis sains dan pelibatan penuh semua stakeholder.
Direktur ECOTON, Dr. Daru Setyorini, menjadi salah satu panelis yang memaparkan pentingnya meningkatkan kapasitas masyarakat peduli lingkungan agar mampu berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sumber daya air, pemulihan kualitas air, dan kerusakan sungai serta mengembangkan solusi lokal yang efektif.
Menurut Dr. Daru, perempuan dan anak adalah kelompok yang rentan terdampak polusi lingkungan namun belum mendapat akses informasi dan partisipasi dalam pengelolaan sumber daya air. Untuk meningkatkan pengelolaan sumber daya air terpadu dan partisipatif, ECOTON berkolaborasi dengan lima lembaga di Belanda dan Indonesia dalam menginisiasi proyek pemulihan kualitas air Sungai Brantas.
“Salah satu tujuan proyek ini adalah meningkatkan partisipasi masyarakat di Sungai Brantas, khususnya perempuan dan anak, melalui pelatihan pemantauan pencemaran dan kerusakan sungai melalui program Citizen Science serta koordinasi aksi solusi dengan pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas,” ujar Dr. Daru.

Selain Dr. Daru, panelis lain yang menyampaikan laporannya adalah Emily Kroft, peneliti kualitas air danau dari Kanada, dan Liu Yang, direktur International Cooperation Department of Chinese Hydraulic Engineering Society. Forum ini menjadi ajang membangun jaringan global dalam kolaborasi menanggulangi krisis air global.
“Program AKSI BRANTAS adalah model yang sangat bagus dan kami mendapat inspirasi aksi yang dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemulihan kualitas air,” ungkap You Jinjun dari Global Water Partnership China di Bali Nusa Dua Convention Center.
Tamara Grujic, peneliti IHE Delft Belanda, menyampaikan apresiasinya atas program AKSI BRANTAS sebagai program yang berhasil menggerakkan lebih banyak komunitas sungai berkontribusi dalam perlindungan sungai.
Program AKSI BRANTAS dilaksanakan selama enam tahun (2018-2024) dan telah memperkuat 15 kelompok komunitas peduli Sungai Brantas yang terdiri dari kelompok perempuan, mahasiswa, dan pelajar. Komunitas Aliansi Lereng Wilis (ALWI) Tulungagung dan Hijau Daun Kediri melakukan aksi rutin penghijauan dan perawatan pohon, serta membersihkan sampah di Gunung Wilis. Mereka juga mendorong kebijakan pemerintah untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai di Kabupaten Tulungagung dan Kediri. Pelajar dan mahasiswa membentuk kelompok pemantau sungai seperti Polisi Air SMPN 1 Wonosalam Jombang, Trash Control Community UINSA, dan Envigreen UIN Malang. Kelompok perempuan juga dibekali keterampilan mengembangkan green business untuk mengurangi timbulan sampah plastik, dengan toko refill dan produk guna ulang seperti tas belanja, popok, dan pembalut wanita berbahan kain katun, serta mengembangkan ekowisata konservasi hutan KTH Kepuh Jombang dan Kelompok Nelayan Sekarmulya Megaluh Jombang.
Program AKSI BRANTAS menghasilkan kolaborasi dengan pemerintah terkait pengelolaan sungai, antara lain dengan BBWS Brantas, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata, Dinas Perikanan dan Kelautan, serta Dinas Kesehatan. Kolaborasi ini perlu dikembangkan dan direplikasi, agar masyarakat dapat berpartisipasi aktif menjaga sungai di wilayahnya dan pemerintah dapat mencapai target pengelolaan sumber daya air dengan dukungan masyarakat yang berdaya dan peduli pada kelestarian sungainya.





