Brilian°Surabaya – Menurut Badan Investigasi Lingkungan (EIA), polusi plastik di Indonesia telah mencapai tahap darurat global dan hampir setara dengan perubahan iklim. Menurut sebuah jurnal ilmiah yang diterbitkan Indonesian Journal of Conservation, komposisi sampah plastik di Indonesia setiap tahun mengalami pertambahan sekitar 5-6% sejak tahun 2000.
Pada tahun 2020, Indonesia menempati posisi nomor dua teratas setelah China sebagai pembuang sampah plastik tertinggi sebanyak 8,96 ton per tahunnya.
Disisi lain, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menyebutkan bahwa pada tahun 2020, total produksi sampah nasional di Indonesia telah mencapai 67,8 juta ton.
Artinya, ada sekitar 185.753 tonsampah setiap harinya dihasilkan oleh 270 juta penduduk. Atau setiap penduduk memproduksi sekitar 0,68 kilogram sampah per hari.
Melihat kondisi yang semakin membuat lingkungan semakin kotor tersebut, Badan Riset Urusan Sungai Nusantara (Bruin) memberikan nuansa edukasi perubahan agar masyarakat sekitar mampu sadar akan bahayanya limbah plastik terhadap ekosistem khususnya air.
Tidak hanya disitu saja, Bruin sudah melakukan kajian kajian dengan menganalisis, serta melakukan screening yang mana selama ini limbah plastik ini diakibatkan oleh beberapa produsen perusahaan yang lalai dalam membuang pengolahan limbah plastik hingga mencemari sungai.
Dalam kesempatan kali ini (Kamis 11/1), Bruin mengadakan jumpa pers dengan dihadiri Prof.Dr.Yulinah Trihadiningrum M.App.Sc Professor sekaligus Pengajar di Lab. Pengelolaan Limbah cair dan limbah Padat (B3) ITS Surabaya menjelaskan, bahwasanya yang menjadi persoalan adalah adanya kelalaian perusahaan yang masih belum paham tentang dampak yang ditimbulkan mengenai bekas bungkus plastik.
“Selama ini masyarakat hanya mengacu akan timbun, angkut, buang, coba kita rubah dengan timbun, angkut, kelola maka ini akan membuat sebuah perubahan besar untuk lingkungan khususnya sungai yang merupakan sumber kehidupan bagi kita, sedangkan untuk produsen sendiri harusnya paham tentang UU tentang dampak lingkungan,” urai Prof Yulinah Trihadiningrum.
Dalam kesempatan yang sama Muhammad Kholid Basyaiban, S.H selaku Koordinator Program SSP Bruin menyampaikan hasil riset studi sensus sampah plastik di 64 titik lokasi se Indonesia menyatakan bahwa selama ini sampah yang ditemukan itu berasal dari plastik hasil beberapa produsen yang terkesan mengabaikan dampak lingkungan.
“Kita akan mendorong pemerintah setempat agar dapat mengelola sampah yang tidak mengakibatkan dampak terhadap lingkungan, bahkan tidak hanya disitu saja, kita akan membuat gerakan clas eksen dengan menggugat sejumlah perusahaan yang datanya sudah kami kantongi, dan beberapa aksi demonstrasi,” pungkas Kholid.





