Aliansi Madura Indonesia Geram Melihat Bukit Sampah Yang Kumuh, Di Kelurahan Triwung Kidul Kota Probolinggo

Jumat, 31 Mei 2024 16:33 WIB
Aliansi Madura Indonesia Geram Melihat Bukit Sampah Yang Kumuh, Di Kelurahan Triwung Kidul Kota Probolinggo
Lokasi sampah yang dikeluhkan masyarakat. (Foto : Istimewa)

Probolinggo | Brilian-news.id,-Di sebuah sudut kota Probolinggo, tepatnya di kelurahan Triwung Kidul yang berbatasan dengan desa Jangur, kecamatan Sumberasih pemandangan yang tak sedap selalu menyapa siapa saja yang melintas. Tumpukan sampah yang menggunung di sekitar jembatan sungai Paser menjadi saksi bisu ketidakpedulian yang berlangsung bertahun-tahun. Bukannya berkurang, sampah justru semakin menguasai area ini, menciptakan sarang penyakit yang mengancam kesehatan masyarakat.

Tidak sekali dua kali warga menyampaikan keluhan mereka. Setiap hari, bau busuk yang menyengat dan pemandangan kumuh mengganggu kenyamanan. “Setiap kali melintas di jembatan sungai Paser, kami harus menahan napas. Anak-anak sering sakit-sakitan karena lingkungan yang tidak bersih,” keluh seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya.

Namun, keluhan-keluhan ini seolah hilang ditelan angin. Aparat kelurahan dan pemerintah kota Probolinggo tampak tak bergeming. Seolah masalah sampah di kelurahan Triwung Kidul adalah angin lalu, sesuatu yang tak perlu diambil pusing.

Bacaan Lainnya

Dierel ketua DPC Aliansi Madura Indonesia juga menyampaikan, “Sampah yang dibiarkan menumpuk bukan hanya soal estetika. Lebih dari itu, tumpukan sampah menjadi sarang berkembang biaknya lalat, tikus, dan berbagai serangga pembawa penyakit, menciptakan mimpi buruk bagi kesehatan warga sekitar, terutama pada anak-anak balita yang melintas”, tegas ketua DPC AMI sembari meninjukan wajah geramnya.

Kasus demam berdarah, diare, dan berbagai penyakit lain menjadi lebih sering terdengar. Anak-anak menjadi korban paling rentan, terpapar bahaya yang seharusnya bisa dihindari jika ada tindakan nyata dari pihak berwenang.

Ironisnya, di tengah tumpukan masalah ini, yang terlihat hanya ketidakpedulian. Sudah bertahun-tahun lamanya warga berharap ada perubahan. Namun, jawaban yang mereka terima hanyalah janji-janji kosong. Pertanyaan yang terus menggantung di udara sampai kapan mereka harus hidup di tengah pencemaran ini?

Sikap apatis dari pihak berwenang ini tak hanya mencerminkan ketidakmampuan dalam mengelola sampah, tetapi juga ketidakpedulian terhadap kesejahteraan masyarakat. Sebuah pengabaian yang, jika dibiarkan terus, bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan dan kenyamanan hidup warga.

Meski demikian, harapan tak pernah benar-benar mati. Warga Triwung Kidul dan desa Jangur masih berharap ada tindakan nyata yang segera diambil. Gotong royong untuk membersihkan sampah, edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, dan tentu saja, perhatian serius dari pemerintah kota Probolinggo adalah langkah-langkah yang sangat dinantikan.

Jika tidak, pemandangan kumuh di jembatan sungai Paser akan terus menjadi luka terbuka yang mengingatkan kita semua akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan. Mari kita berharap, sebelum terlambat, ada perubahan yang bisa kita rasakan bersama. Sebuah perubahan yang bukan hanya janji, tetapi kenyataan yang membawa kebaikan bagi semua.

Dengan ditayangkannya berita ini semoga dapat membuka mata pemerintahan untuk segera menindak lanjuti, dan seluruh masyarakat dapat memahami tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *