Tatang Sudrajat: Habiskan Dana Milyaran, Fasilitas Umum di Kota Bandung Terbengkalai

Senin, 14 Nov 2022 22:33 WIB
Tatang Sudrajat: Habiskan Dana Milyaran, Fasilitas Umum di Kota Bandung Terbengkalai

Brilian•Bandung – Pengamat kebijakan publik yang juga Sekjen Forum Komunikasi Dekan FISIP PTS se-Indonesia, Drs. Tatang Sudrajat, S. IP, M. SI, menilai salah satu penyebab gagalnya kebijakan publik melalui penyediaan fasilitas umum karena kesalahan pada perencanaan dan perumusan program.

Hal itu diungkapkannya menanggapi keberadaan sejumlah halte bus atau shelter TMB di Kota Bandung yang terbengkalai dan cenderung tidak berfungsi.

Padahal sejumlah fasilitas umum itu dibangun dengan menelan anggaran miliaran rupiah. Halte-halte bus dengan ragam desain dan bentuknya kini rusak dan terbengkalai. Jarang terlihat aktifitas turun naiknya penumpang bus sebagaimana semestinya.

“Bisa saja yang salah itu adalah pada saat perencanaan dan pada saat perumusan adanya program pembuatan shelter itu bukan berdasarkan analisis dan bukan berdasarkan formulasi kepentingan publik yang sesungguhnya,” kata Tatang saat diwawancarai melalui sambungan telepon seluler usai Konferensi Internasional dan Kongres FK-DKISIP di Unjani Cimahi, Senin (14/11-2022).

Menurut dosen FISIP USB YPKP ini, banyaknya fasilitas publik atau umum seperti halnya halte bus yang bertebaran di Kota Bandung memang sangat memprihatinkan.

Sejatinya fasilitas publik disediakan sebagai bentuk pelayanan yang diberikan atau disediakan pemerintah atau negara kepada masyarakat. Namun yang terjadi di Kota Bandung fasilitas yang sudah diberikan pemerintah justru kondisinya terbengkalai.

Tatang juga memandang, jika terbengkalainya halte di Kota Bandung karena kesalahan pada saat perencanaan dan perumusan. Pembuatan (pembangunan) shelter itu bukan berdasarkan analisis dan bukan berdasarkan formulasi kepentingan publik yang sesungguhnya.

“Atau bisa jadi memang desain perencanaannya atau desain formulasi kebijakannya itu tidak berdasarkan analisis yang komprehensif terhadap apa yang menjadi apa yang menjadi need atau kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.

terbengkalainya halte bus di kota Bandung ada faktor kelalaian dalam pemeliharaan atau perawatan.

“Sebagaimana pada umumnya persoalan atau permasalahan yang terjadi di masyarakat, membangun itu sangat gampang. Tapi yang paling sulit adalah bagaimana memeliharanya. Memelihara apa yang telah dibangun, dibuat serta apa yang telah dikembangkan oleh pemerintah termasuk ruang-ruang publik itu yang sangat tidak gampang untuk merawatnya atau memeliharanya,” papar Tatang lagi.

Hal ini bisa dilihat di tempat-tempat umum lain, seperti di stasiun atau terminal, jarang ada fasilitas publik yang terpelihara dengan baik. Banyak aksi vandalism, coretan, banyak kerusakan dan banyak orang yang usil.

“Sehingga titik lemahnya adalah jika dilihat secara umum, lebih kepada bagaimana semua punya komitmen untuk merawat sesuatu yang sudah dibangun dengan susah payah. Katakanlah dengan ketersediaan anggaran, dengan penyediaan anggaran sebagai salah satu faktor atau sebagai variable dalam implementasi kebijakan publik yang memang cukup besar,” jelasnya.

Saat ditanya siapa yang layak diminta pertanggungjawaban atas terbengkalainya halte bus, Tatang menjelaskan menjawab, tentu dinas atau instansi terkait yang secara prosedural dan formal memiliki tanggungjawab yang harus memelihara atau memantau.

Atas banyaknya fasilitas umum yang terbengkalai, jelas Tatang, adalah tugas dinas terkait dalam monitoring, evaluasi atau pemantauan yang tidak konsisten dilakukan. Karena monitoring kebijakan, pemantauan terhadap apa yang telah dilakukan atau kendala apa yang ditemui di lapangan itu, seringkali menjadi sesuatu yang abai. Kurang perhatian dari implementor kebijakan.

“Jadi disini tentu dinas terkait yang berkaitan dengan itu, seharusnya menjadi pihak yang paling serius menangani permasalahan ini,” tandasnya lagi.

Lantas, bagaimana seharusnya tata kelola pemerintahan agar hal seperti terbengkalainya fasilitas publik tidak terulang kembali?

“Saya melihat dari persfektif public policy atau kebijakan publik, sebuah program, kebijakan atau sebuah action dari pemerintah harus benar-benar secara komprehensif integral diformulasikan dengan baik, tepat dan akurat. Demikian halnya juga dengan pembangunan fasilitas shelter atau halte bus. Layak tidaknya lokasi dibangun halte semestinya menjadi bagian dari formulasi kebijakan yang telah dipersiapkan sebelumnya secara matang oleh instansi atau OPD (organisasi perangkat daerah),” jawab Tatang gamblang.

Agar tidak lagi terjadi kesia-siaan pembangunan fasilitas publik Tatang menawarkan solusi, yakni pemerintah sebagai pemilik otoritas untuk menganggarkan dan memformulasikan kebijakan berupa hadirnya fasilitas publik, harus segera membenahi dan meninjau ulang keberlanjutan pembangunannya. Pada sisi lain masyarakat sebagai pengguna fasilitas publik yang telah memakan biaya cukup besar dari anggaran pemerintah kota Bandung, juga harus ikut bertanggung jawab.

Public accountability atau akuntabilitas publik itu, kata Tatang, bukan hanya harus ditunjukkan oleh lembaga pemerintah sebagai yang punya otoritas. Tapi juga oleh warga masyarakat, masing-masing individu warga masyarakat harus sama-sama konsisten ikut menjaga, memelihara, tidak merusak apapun yang menjadi fasilitas milik umum atau milik public. Sehingga keduanya bersama-sama harus ikut merawatnya.

“Saya kira ini adalah persoalan secara umum. Bukan hanya terkait pada masalah shelter atau halte bus kota. Tapi juga berbagai fasilitas umum di kota Bandung,” pungkasnya.

Dengan banyaknya halte-halte bus yang terbengkalai ini, rencananya Pemerintah kota (Pemkot) Bandung akan segera membongkarnya. Alasannya, halte sudah berubah fungsi.

Selain tempat tinggal para penyandang masalah kesejahteraan sosial, sebagai tempat penyimpanan sayur dan juga sebagai lapak menjual burung. Dan untuk membongkar halte-halte terbengkalai ini, Pemkot Bandung sudah menganggarkan dana lumayan besar.

Beragam Shelter TMB bertebaran di Kota Bandung, ada yang berbentuk kapsul dan berwarna coklat gelap serta berjeruji besi. Kini warnanya bertambah kusam termakan usia dan tercampur debu jalanan.

Sementara halte bus berbentuk kubus, kaca-kaca pecah dan lepas, lantai-lantai pecah, serta dinding kusam penuh coretan. Di beberapa lokasi, halte bus TMB ini pun dijadikan tempat berjualan atau bahkan penginapan tuna wisma.**

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *