Si Pembawa Berkah yang Jadi Andalan

Jumat, 28 Jan 2022 14:27 WIB
Si Pembawa Berkah yang Jadi Andalan
Ilustrasi odong-odong

Brilian°Jakarta – Odong-Odong begitulah julukan mobil roda empat yang dicat penuh warna ngejreng, beserta sound system yang menggelegar tanpa body samping, jendela, dengan jejeran bangku tersusun ke belakang dibatasi penjaga sekat besi.

Meski terkesan bukan seperti kendaraan transportasi pada umumnya, namun di mata warga Kampung Pulo, Jatinegara sekitaran jalan Inspeksi Kali Ciliwung. Odong-odong jadi juaranya yang dipilih warga untuk sekedar persingkat waktu menuju jalan utama.

Siang itu langit yang sedikit mendung, Joan dengan tato di lengan kirinya, tindik persing di kuping, dan topi bertuliskan “Yellow Claw” terlihat mulai bersiap menarik odong-odongnya, meskipun sudah kesiangan.

“Baru mau narik nih bang kesiangan,” ujar Joan sembari membakar sebatang rokok dan mengecek kesiapan odong-odongnya.

Berbahan mobil kijang doyok alias julukan kijang keluaran tahun 1980-an itu. Dengan kerangka yang hampir semuanya telah diubah, beserta cat warna-warni dari hijau, merah, putih, kuris berkelir kuning, telah siap berputar mengelilingi kawasan Kampung Pulo.

Mesin mobil Odong-odong yang terbilang tua itu sangat terasa suara getarannya, namun Joan punya siasat agar tetap para penumpang nyaman dengan alunan lagu memakai sound system besar yang ada lantas memutar “Lagu Santai- Steven & Coconuttreez.”

Sembari diiringi lagu, Joan mulai mengendarai odong-odongnya menyusuri pinggiran jalan inpeksi Kali Ciliwung, bersama satu rekannya bukan kenek tapi mengaku hanya senang ikut muter-muter naik odong-odong bareng Joan.

Dengan nada sedikit keras akibat imbas lagu yang terlalu besar. Joan bercerita jika profesinya sebagai sopir odong-odong di sekitaran Kampung Pulo lebih baik ketimbang profesinya dulu yang sempat menjadi sopir metro mini.

“Odong-odong lebih santai kerjanya, kaga capek, muter-muter doang sini. Kalau ada carteran (sewa rombongan) baru kita keluar dari daerah sini (Kampung Pulo). Buat hasil lebih enak ini lah,” kata Joan.

Meski trayek lintasan odong-odong terbilang hanya dekat mengitari kawasan Kampung Pulo. Namun, sekali putaran odong-odong Joan sudah lumayan sesak. Baik ibu-ibu dari pasar, pekerja yang hendak ke jalan besar, sampai anak-anak yang pulang sekolah naik odong-odong.

Dengan tarif Rp3.000 untuk setengah jalan hingga Rp5.000 untuk satu kali putaran, terkhusus anak-anak yang pulang sekolah hanya dipatok Rp2.000. Dari hasil itu, sudah terlihat Joan telah meraup uang sekitar Rp20.000 sekali putaran, dengan waktu tak lebih dari 15 menit.

“Kalau anak sekolah khusus Rp2.000 aja, ini yang naik hampir semuanya kenal. Orang warga Kampung Pulo juga. Jadi emang dari kita buat kita lah,” ujarnya.

Dari situ, Joan dalam sehari dengan jarak tempuh bisa mencapai rata-rata 50 putaran bisa menghasilkan sekitar Rp200.000 sampai Rp250.000 ribu jika sedang normal. Namun bila sepi, hanya mendapat kisaran Rp150.000. Di mana uang itu nantinya akan disetorkan Rp100.000 kepada pemilik odong-odong.

Menurutnya, dengan pekerjaan menarik odong-odong sudah lebih dari cukup baginya untuk menikmati penghasilan harian. Terlebih, ketika dirinya dicarter untuk mengantar rombongan pengantin atau warga untuk berwisata itu bisa mendapat sekali jalan sampai Rp500.000-Rp700.000 tergantung lokasi tujuannya.

Meski demikian, persoalan carter ini hanya bisa dilakukan pada Sabtu atau Minggu. Mengingat ketika hari itu, odong-odong barulah bisa bebas melintas ke jalan raya, keluar kawasan Kampung Pulo.

“Minggu entar, saya diminta borongan nganter besan ke wilayah Depok itu lumayan. Banyak yang milih odong-odong, bukan cuman warga Kampung Pulo doang, karena muatnya lebih banyak jadi lebih murah ketimbang angkot,” tuturnya.

Ketenaran odong-odong Kampung Pulo sudah tak diragukan lagi, kata Joan, transportasi ini muncul yang awalnya sebatas wisata. Kini sejak beberapa warga Kampung Pulo direlokasi ke rumah susun (rusun) Jatinegara Barat dan jalan inspeksi Kali Ciliwung hadir, kendaraan ini punya tugas tambahan untuk antarkan warga.

Buka Lapangan Kerja
Selain memudahkan warga Kampung Pulo, kehadiran Odong-odong juga diakui Joan telah menyerap tenaga kerja bagi warga untuk mendapatkan pundi-pundi rejeki yang berasal dari sesama warga kawasan Kampung Pulo.

“Ini kan treknya kaga dilalui angkot, emang nggak boleh juga trek ini. Sudah khusus lah buat odong-odong. Warga yang naik juga warga kita kebanyakan, yang punya sama yang narik juga sama,” tuturnya.

“Ada juga yang sempet modelnya angkot, tapi nggak laku. Warga tetap pilih odong-odong, enggak tau kenapa. Karena gerah kali ya, kan odong-odong mah anginnya spoy-spoy. Asal jangan ujan aja kuyup pasti,” lanjut Joan sambil bergurau.

Usai mengitari Kampung Pulo dengan odong-odong Joan, lantas diarahkan bertemu dengan Rasyid pemilik Odong-odong yang bekerja sebagai koordinator salah satu koperasi angkot. Dimana ia, mengaku bukanlah pertama yang mencetuskan ide untuk memiliki odong-odong.

Namun, dirinya hanya diminta remaja sekitar untuk membuat odong-odong agar mereka bisa bekerja. Bermodalkan sekitar Rp50 juta untuk bahan membeli mobil dan jasa renovasi satu odong- odong di tahun 2018, kini Rasyid telah berkembang dan memiliki lima odong-odong.

“Saya cuman diminta saja awalnya, yaudah awalnya saya bilang ke mereka janji buat narik, kalau sudah dibuat. Dan sampai sekarang sudah punya lima. Sama, itung-itung bisa mempekerjakan anak-anak di sini (Kampung Pulo),” ungkap Rasyid.

Dengan lima odong-odong yang sudah dimilikinya, meskipun satu odong-odong dengan mesin panther kerap kali rusak. Tetapi ketika ditanyakan penghasilannya perbulan, Rasyid hanya tersenyum, karena dari lima odong-odongnya dalam sehari menghasilkan Rp500.000 yang kemudian dikalikan satu bulan.

“(Rp10 juta lebih), ya cukuplah. Itu bisa kerasa karena saya kan tahu dikit-dikit cara benerin mobil. Jadinya keuntungannya bisa kerasa. Kalau yang engga tahu, biasanya tekor lari ke perbaikan,” kata Rasyid.

Meski hasilnya lumayan bagi Rasyid, namun dirinya belum kepikiran untuk menambah unit lagi. Karena mengingat biaya yang tidak murah, terlebih dirinya yang harus mempertimbangkan setiap kebijakan pemerintah.

“Tahun 2019, kalau tidak salah sempat ada larangan odong-odong beroperasi di jalan raya. Nah itu, khawatir kita. Karena bagaimana pun, kan di jalan Jatinegara Odong-odong lewat gitu, dan kalau libur di carter. Kalau itu tidak boleh rugikan,” ucapnya.

“Tapi untungnya nggak jadi kayanya aturan itu, karena kalau jadi pun kita bisa apa. Pasrah aja udah kan, rugi jadinya,” sambungnya.

Dia pun berharap, moda transportasi khas warga Kampung Pulo ini tetap ada dan tidak ada larangan ke depannya. Karena Odong-odong bukan soal pendapatan, namun ada penyerapan pekerja, kemudahan masyarakat, hingga wisata warga yang sangat dirasakan.

Obrolan bersama Rasyid di samping odong-odong yang tengah diperbaiki pun usai, dan terlihat di sisi jalan. Rombongan ibu-ibu bersama para anaknya ada yang masih batita maupun balita dengan wajah gembira naik Odong-odong sambil menerima suapan demi suapan nasi dari sang ibu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *