Rapid Test Antigen Disebut Banyak Berikan Negatif Palsu pada Varian Omicron

Jumat, 31 Des 2021 11:31 WIB
Rapid Test Antigen Disebut Banyak Berikan Negatif Palsu pada Varian Omicron
Rapid Test Antigen Disebut Banyak Berikan Negatif Palsu pada Varian Omicron

Brilian*Amerika Serikat – Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat, Food and Drug Administration (FDA), mengatakan bahwa tes cepat COVID-19 mandiri di rumah cenderung memberikan hasil negatif palsu pada pasien yang terpapar virus corona varian Omicron yang bermutasi menjadi lebih menular ketimbang SARS-CoV-2 di awal pandemi muncul.

Kabar itu muncul ketika negara AS menghadapi lonjakan kasus cukup tinggi yang menurut para ahli diakibatkan oleh kurangnya tracing dan tracking. Ditambah, hasil tes PCR keluar dengan waktu yang cukup lama dan peralatan yang terbatas.

Dalam sebuah pernyataan, FDA mengatakan bahwa mereka sedang bekerja sama dengan National Institutes of Health (NIH) untuk mempelajari kinerja rapid test antigen terhadap sampel pasien yang mengandung virus corona varian Omicron.

Bacaan Lainnya

“Data awal menunjukkan bahwa tes antigen memang mendeteksi varian Omicron tetapi mungkin telah mengurangi sensitivitasnya.”
– FDA dalam sebuah pernyataan resmi, seperti dikutip media ini.

Sensitivitas adalah tingkat seberapa tinggi alat dapat mendeteksi virus. FDA mengatakan, sejauh ini pihaknya akan terus mengizinkan penggunaan rapid test antigen–yang bekerja dengan cara mendeteksi protein permukaan virus corona– dan seseorang harus menggunakannya sesuai dengan aturan dan petunjuk pemakaian.

Misalnya, seseorang setidaknya harus melakukan dua kali tes antigen dengan selang waktu tertentu untuk mengonfirmasi hasil negatif. Jika seseorang dites antigen hasilnya negatif tapi dia diduga terinfeksi covid, baik karena gejala atau melakukan kontak erat dengan pasien corona, maka orang itu harus tetap melakukan gold standard test covid atau PCR.
PCR sendiri bekerja dengan mendeteksi genetik virus. Test ini lebih akurat karena bisa membuat jutaan salinan virus RNA sehingga jumlah virus yang hanya sedikit akan dapat terdeteksi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *