Malam di Lokasi Pengungsian Erupsi Semeru

Senin, 20 Des 2021 12:01 WIB
Malam di Lokasi Pengungsian Erupsi Semeru
Suasana malam di pengunggsian korban erupsi gunung semeru

Brilian*Lumajang – Petugas dan anak-anak sibuk mengangkut kantong berwarna oranye. Semua bergotong royong memindahkan bantuan dari sebuah truk yang terparkir tepat di gerbang SMPN 02 Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur. Dalam dua pekan ini, gedung sekolah itu menjadi tempat pengungsian korban bencana alam erupsi Gunung Semeru.

Kondisi di SMPN 02 Pronojiwo pada Minggu (19/12) itu cukup ramai. Bantuan silih berganti berdatangan. Para pengungsi juga sibuk mengantre distribusi bantuan. Namanya satu persatu dipanggil oleh petugas.

Empat ruang kelas disulap menjadi tempat tinggal sementara pengungsi. Totalnya ada 160 jiwa atau 69 kepala keluarga yang mengungsi dari Desa Supituran. Hampir tidak ada jarak antarpengungsi. Meski tidak berdesakan, empat ruangan kelas itu menampung cukup banyak pengungsi.

Bacaan Lainnya

Wajah lelah terlihat dari dalam ruang kelas. Ada anak-anak sibuk mengisi waktu dengan bersenda gurau, ada juga yang asik menonton sesuatu dari telepon pintarnya. Ada juga yang sudah terlelap karena letih.

Sedangkan, ada pengungsi sibuk mondar mandir mengangkut dus berisi mi instan dan sembako. Ada tokoh agama yang memberikan bantuan melalui amplop kepada ibu-ibu, sambil berdoa supaya bencana ini cepat berlalu.

Di depan ruang kelas itu juga terdapat meja yang ditaruh dispenser air dan renceng minuman seduh. Layaknya warung kopi. Di depan ruangan kelas itu para bapak-bapak ngopi hingga merokok. Salah satunya Muslih yang menceritakan pengalamannya.

Erupsi itu membuatnya mengungsi. Meski rumah tidak hancur, bapak berusia 40 tahunan itu bercerita, abu tebal menyelimuti rumahnya. Ia dan keluarga mengungsi. Kebetulan istri dan anaknya bisa dititipkan ke rumah saudara di Kabupaten Malang. Namun, Muslih masih tinggal di pengungsian karena harus mengurus kambing ternaknya yang tersisa di rumahnya.

“Kalau pagi saya ke rumah urus kambing, sore habis magrib kembali ke sini,” katanya saat berbincang dengan media ini, Minggu (19/12) malam.

Apa yang dialaminya juga banyak dialami pengungsi lain. Saat pagi buta, banyak pengungsi kembali ke rumahnya yang masih tersisa. Ada berbagai alasan, salah satunya mengurus ternak seperti Muslih. Meski dengan rasa takut, banyak warga terpaksa harus bolak-balik.

“Kalau ini satu bulan juga enggak berani (tinggal kembali di rumah), masih trauma,” terang Muslih.

Namun, ada yang tidak bernasib baik seperti Muslih. Banyak pula warga yang terpaksa tinggal sementara di pengungsian karena rumahnya tak bisa lagi ditinggali.

Toha, koordinator para pengungsi itu bercerita, banyak pengungsi yang rumahnya sudah hancur karena erupsi. Tak ada tempat kembali.

Meski bantuan dari berbagai pihak termasuk pemerintah mencukupi untuk hidup sementara di pengungsian, harapan agar bisa kembali itu diinginkan warga Supituran. Toha yang juga pengungsi itu mengatakan, warga berharap bisa kembali tinggal di rumahnya.

Warga berharap uluran bantuan pemerintah untuk memberikan rumah untuk kembali. Masalah ini pun sudah dikoordinasikan dengan Bupati Lumajang Thoriqul Haq.

“Masalah hunian ini sebagian rumahnya hancur. Sudah dikoordinasikan dengan Bapak Bupati Lumajang,” pungkas Toha mengakhiri perbincangan bersama awak media.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *