IPSI Jatim Pantau Bakat Baru Pencak Silat di Porprov IX 2025

Selasa, 1 Jul 2025 09:03 WIB
IPSI Jatim Pantau Bakat Baru Pencak Silat di Porprov IX 2025

Malang – Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jawa Timur memanfaatkan momentum Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur 2025 untuk melakukan penjaringan atlet muda berbakat yang akan diproyeksikan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.

Ketua Umum IPSI Jatim, Bambang Haryo Soekartono, menyampaikan bahwa Porprov kali ini tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, melainkan juga ruang evaluasi dan seleksi awal bagi pesilat yang memiliki potensi menonjol.

“Ajang ini bukan hanya soal siapa menang, tapi siapa yang punya daya juang dan kemampuan teknis untuk kami siapkan ke jenjang yang lebih tinggi,” ujar Bambang saat membuka pertandingan pencak silat di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Kota Malang, Senin (30/6/2025).

Bacaan Lainnya

Cabang olahraga pencak silat dalam Porprov IX ini diikuti sebanyak 515 atlet dari 36 kabupaten/kota se-Jawa Timur. Bambang mengaku jumlah tersebut cukup menjanjikan sebagai sumber regenerasi atlet pencak silat Jawa Timur di masa mendatang.

Meski belum merinci jumlah pesilat yang akan direkrut, ia memastikan bahwa proses seleksi dilakukan secara ketat dan berkelanjutan.

“Yang kami cari adalah mereka yang tidak hanya menang di pertandingan, tetapi juga siap ditempa lebih lanjut untuk tampil di PON 2028,” tegasnya.

Bambang menambahkan, IPSI Jatim tengah fokus membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan bagi para atlet muda, terutama mereka yang lolos seleksi dan masuk ke program pemusatan latihan daerah (puslatda).

“Pembinaan jangka panjang akan terus kami lakukan agar kualitas atlet semakin meningkat. Tujuan kami jelas, mencetak pesilat profesional yang bisa berprestasi dan membawa nama baik daerah,” ucap pria yang juga menjabat sebagai anggota Komisi VII DPR RI tersebut.

Selain aspek teknis dan prestasi, Bambang juga menekankan pentingnya pembentukan karakter. Ia mengingatkan agar para atlet muda tidak menyalahgunakan kemampuan bela diri untuk tindakan di luar konteks olahraga.

“Saya tekankan kepada mereka agar tidak sembarangan menggunakan kemampuan silat. Jangan sampai ada pesilat kita yang terjerat kasus hukum karena tindakan kekerasan,” ujarnya.

Menurutnya, nilai-nilai sportivitas, etika, dan tanggung jawab sosial harus menjadi bagian dari proses pembinaan agar pencak silat tetap menjadi olahraga yang membentuk kepribadian dan menjaga martabat.

Pos terkait