Edwin Senjaya: Pencak Silat Harus Hidup di Sekolah dan Ruang Publik

Rabu, 17 Des 2025 06:21 WIB
Edwin Senjaya: Pencak Silat Harus Hidup di Sekolah dan Ruang Publik

Brilian•BANDUNG – Pengakuan UNESCO terhadap pencak silat sebagai warisan budaya tak benda dunia dinilai tidak boleh berhenti sebagai simbol kebanggaan semata. Wakil Ketua DPRD Kota Bandung Edwin Senjaya menegaskan, pengakuan internasional tersebut harus diikuti dengan langkah konkret agar pencak silat terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.

Hal itu disampaikan Edwin menyusul penghargaan Anugerah Insan Pencak Silat yang diterimanya dari Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, pada Minggu, 14 Desember 2025. Penghargaan tersebut diberikan atas peran Edwin sebagai pengusul dan pendorong pencak silat hingga diakui UNESCO.

Menurut Edwin, pencak silat bukan sekadar cabang olahraga bela diri, melainkan identitas budaya bangsa yang mengandung nilai filosofis, spiritual, dan seni. Karena itu, upaya pelestarian harus dilakukan secara berkelanjutan dan terstruktur, tidak hanya melalui event seremonial.

Bacaan Lainnya

“Pengakuan UNESCO ini justru menjadi tanggung jawab besar. Pencak silat harus dirawat, diajarkan, dan diwariskan secara konsisten. Kalau tidak, evaluasi UNESCO bisa saja menyatakan kita gagal menjaga warisan budaya sendiri,” kata Edwin saat ditemui di Gedung DPRD Kota Bandung, Senin, 15 Desember 2025.

Edwin yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Masyarakat Pencak Silat Indonesia (MASPI) menilai, salah satu langkah strategis yang perlu segera diwujudkan adalah memasukkan pencak silat ke dalam muatan lokal atau kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar dan menengah. Dengan cara itu, pencak silat dapat dikenal dan dicintai sejak usia dini.

Namun demikian, ia mengakui masih ada tantangan serius, terutama keterbatasan tenaga pelatih yang tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga memiliki kemampuan pedagogis. Banyak praktisi pencak silat dinilai mumpuni secara teknis, tetapi belum tentu siap mengajar anak-anak di lingkungan pendidikan formal.

“Perlu program pelatihan pelatih atau training of trainers. Pencak silat harus diajarkan dengan pendekatan yang edukatif, komunikatif, dan sesuai usia peserta didik,” ujarnya.

Edwin menegaskan, Kota Bandung memiliki potensi besar sebagai pusat pengembangan pencak silat berbasis budaya dan pendidikan. Ia berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas pencak silat, dan dunia pendidikan dapat segera diperkuat agar pencak silat tidak hanya lestari, tetapi juga menjadi kebanggaan yang hidup di ruang publik dan keseharian masyarakat.**

Pos terkait