Brilian•BANDUNG — Peningkatan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Jawa Barat menjadi perhatian serius Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat. Sepanjang tahun 2024, tercatat lebih dari 3.000 kasus yang dilaporkan, menunjukkan adanya kesadaran publik yang mulai tumbuh.
“Data ini bukan hanya angka, tetapi cermin dari keberanian masyarakat untuk bicara dan bertindak,” ujar Kepala DP3AKB Jabar, Siska Gerfianti dalam perbincangan bersama Pokja PWI Kota Bandung melalui Basa Basi Podcast, Senin (5/5/2025).
Siska merinci, dari total 3.084 kasus, sebanyak 2.939 di antaranya menimpa anak dan 1.145 pada perempuan, dengan beberapa kasus tumpang tindih. UPTD PPA Jabar sendiri menangani langsung 948 kasus.
Menurutnya, pelaporan bisa datang dari siapa saja, bukan hanya korban. Masyarakat dapat menghubungi layanan pengaduan resmi melalui WhatsApp di 085222206777 atau SAPA 129. “Yang terpenting, korban dan pelapor mendapat jaminan perlindungan hukum,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pelaku kekerasan harus ditindak tegas, seperti pada kasus dugaan pelecehan oleh oknum tenaga medis di Bandung dan Garut. “Kami dorong aparat untuk tidak ragu menegakkan hukum,” katanya.
Dalam upaya pencegahan, DP3AKB menggulirkan gerakan Jabar CEKAS, sebuah program edukatif yang melibatkan banyak pihak dari tingkat desa hingga kota. Lima prinsip utama program ini adalah Berani Cegah, Tolak, Lapor, Maju, dan Lindungi.
Sementara terkait isu vasektomi yang sempat dikaitkan dengan bansos, Siska menegaskan bahwa ajakan pemerintah adalah untuk berpartisipasi dalam program KB secara menyeluruh, bukan dalam konteks pemaksaan.
Ia juga mengajak media untuk lebih sensitif dalam menyampaikan berita kekerasan, dengan menempatkan korban sebagai subjek yang harus dilindungi. “Jangan sampai pemberitaan justru membuat trauma baru,” pesannya.**





