Bambang Haryo Nilai MBG Ubah Pola Konsumsi Pelajar, Guru Kini Ikut Rasakan Manfaatnya

Rabu, 29 Jul 2026 10:08 WIB
Bambang Haryo Nilai MBG Ubah Pola Konsumsi Pelajar, Guru Kini Ikut Rasakan Manfaatnya

SIDOARJO – Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah membawa perubahan nyata terhadap pola konsumsi pelajar di sekolah. Kehadiran program tersebut dinilai mampu mengurangi ketergantungan siswa terhadap makanan instan sekaligus meningkatkan kualitas gizi yang mereka konsumsi setiap hari.

Hal itu disampaikan Bambang Haryo saat melakukan monitoring pelaksanaan MBG di SMA Negeri 1 Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo. Dalam kunjungan tersebut, ia memastikan pelaksanaan program berjalan baik sekaligus mengevaluasi manfaat yang dirasakan oleh sekolah.

Menurut BHS, sebelum adanya MBG, sebagian besar siswa memanfaatkan uang saku sekitar Rp10 ribu untuk membeli makanan di luar lingkungan sekolah. Kondisi tersebut membuat pilihan makanan sehat menjadi sangat terbatas karena harga makanan bergizi relatif lebih mahal dibandingkan makanan cepat saji.

Bacaan Lainnya

“Anak-anak sekarang mendapatkan makanan bergizi yang lebih baik. Mereka lebih semangat belajar sampai siang dan guru-guru juga kini menerima MBG sehingga semakin berenergi. Program ini harus terus dilanjutkan karena menjadi investasi untuk menyiapkan generasi unggul menghadapi bonus demografi dan persaingan global,” ujar Bambang Haryo.

Ia mengatakan program tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi siswa, tetapi juga mulai dirasakan para tenaga pendidik. Sejak awal tahun ajaran baru, guru di SMA Negeri 1 Wonoayu memperoleh paket makanan dengan menu yang sama sehingga kebutuhan gizi seluruh warga sekolah dapat terpenuhi secara merata.

Menurut Bambang Haryo, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah ingin menciptakan lingkungan belajar yang sehat bagi seluruh elemen sekolah, bukan hanya peserta didik.

Kepala SMA Negeri 1 Wonoayu, Ririn, mengungkapkan sejak MBG diterapkan, antusiasme siswa cukup tinggi. Selain memperoleh makanan yang lebih bergizi, para siswa juga dapat menghemat uang saku yang sebelumnya digunakan membeli makanan di luar sekolah.

“Mulai tahun ajaran ini, sekitar pertengahan Juli, bapak ibu guru juga menerima MBG. Menunya sama dengan anak-anak, ada sayur dan lauk sehingga kebutuhan gizi juga terpenuhi. Alhamdulillah, tidak ada pembedaan antara guru dan siswa,” katanya.

BHS menilai keberhasilan MBG harus dijaga melalui pengawasan kualitas makanan, ketepatan distribusi, serta evaluasi berkala agar manfaat program dapat terus meningkat. Ia optimistis program ini akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan sekaligus kesehatan generasi muda Indonesia.

Pos terkait