Surabaya — Peringatan Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya soal mengenang, tapi juga membangkitkan kembali semangat perjuangan lewat tindakan nyata. Hal itulah yang dilakukan Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Bambang Haryo Soekartono (BHS), saat mengunjungi makam dan Museum Dr. Soetomo, Minggu (25/5/2025).
Dalam kunjungan yang penuh makna itu, BHS menyoroti kondisi museum yang dianggap jauh dari kata ideal. Minimnya fasilitas, termasuk tidak adanya proyektor sendiri, menjadi bukti bahwa perhatian terhadap warisan sejarah masih sangat terbatas.
“Ini ironi. Kita bicara tentang semangat kebangkitan nasional, tapi tempat yang menyimpan sejarah kebangkitan malah hidup seadanya. Masa museum sebesar ini masih menyewa proyektor?” kritik BHS saat meninjau lokasi.
Ia menilai, museum tidak boleh hanya menjadi tempat sunyi penuh diorama dan artefak, tetapi harus dihidupkan sebagai ruang interaksi, belajar, dan inspirasi bagi generasi muda.
“Museum harus bisa berbicara. Jangan hanya jadi monumen diam. Harus ada pertunjukan, kegiatan seni, pemutaran film sejarah, supaya orang datang dan merasa terhubung,” tegasnya.
BHS juga mengingatkan Pemerintah Kota Surabaya untuk tidak memandang sebelah mata potensi wisata edukasi. Menurutnya, wisatawan, khususnya dari luar negeri, justru lebih menghargai nilai budaya dan sejarah ketimbang destinasi modern.
“Wisatawan mancanegara lebih suka yang otentik. Mereka datang untuk budaya dan sejarah kita. Tapi kalau tempatnya tidak representatif, mereka kecewa,” ungkapnya.
Ia juga menyayangkan masih minimnya program kebudayaan yang bersinergi dengan tempat-tempat bersejarah seperti museum ini. Ia menyarankan agar museum diberi ruang sebagai panggung seni dan budaya yang rutin digelar.
“Ayo tampilkan tari tradisional, baca puisi perjuangan, atau pertunjukan musik keroncong. Biar museum ini hidup dan menarik perhatian generasi baru,” katanya.
Lebih dari itu, BHS mengajak generasi muda untuk meneladani semangat dan pemikiran Dr. Soetomo. Ia prihatin dengan kondisi remaja yang lebih sibuk berselancar di dunia maya tanpa arah.
“Anak-anak muda kita jangan cuma ngejar viral. Bangunlah pemikiran dan kontribusi seperti Soetomo, yang sudah berpikir tentang bangsa sejak muda,” seru BHS.
Sementara itu, pengelola museum, Deka Yudiawantiarsa, membenarkan bahwa fasilitas masih sangat terbatas. Ia menyambut baik perhatian yang diberikan dan berharap ada langkah nyata dari pemerintah untuk memodernisasi museum.
“Selama ini masih ada stigma museum itu kuno dan membosankan. Kalau dibarengi teknologi dan program seni, pasti lebih menarik,” jelasnya.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini pun menjadi refleksi penting: bahwa kebangkitan bukan hanya milik masa lalu, tapi tanggung jawab bersama untuk menjaga nyala semangatnya hari ini dan di masa depan.





