Brilian News.id |Mojokerto – SMPN 2 Pungging, Mojokerto, menggelar acara perpisahan siswa yang diselenggarakan pada 13 Juni 2024 sebagai penutup tahun ajaran. Acara ini sekaligus menjadi momen bagi para siswa yang telah menyelesaikan masa studi di sekolah tersebut. Namun, di balik euforia kelulusan, muncul kritik dari seorang wali murid terkait biaya yang dibebankan oleh pihak sekolah.
Biaya yang dikenakan kepada setiap siswa mencapai Rp 1,2 juta, dengan rincian penjelasan melalui pihak sekolah ke anak didik yakni Rp 900 ribu untuk tur ke Bali dan Rp 300 ribu untuk acara wisuda. Jumlah ini dipandang oleh wali murid sebagai angka yang cukup besar. Total siswa yang mengikuti acara tersebut sebanyak kurang lebih 248 orang, sehingga jumlah biaya keseluruhan yang terkumpul mencapai angka signifikan.
Kritik tersebut muncul ketika Ujang salah satu wali murid yang mengikuti acara wisuda tersebut, dinilainya berlangsung sederhana. Menurutnya, biaya Rp 300 ribu untuk acara wisuda tidak sesuai dengan kualitas acara yang digelar.
“Acara wisuda tampak sederhana, tidak terlihat adanya fasilitas atau kegiatan yang sesuai dengan biaya yang dibebankan,” ungkapnya.
Atas ketidakpuasan tersebut, wali murid kemudian meminta kepada pihak sekolah untuk memberikan rincian lengkap mengenai penggunaan dana acara wisuda. Permintaan ini diajukan pada Senin (18/11/2024) dengan harapan pihak sekolah segera memberikan penjelasan yang transparan. Pihak sekolah berjanji akan menghubungi kembali wali murid untuk menyampaikan klarifikasi.
Awak mediapun berupaya mengkonfirmasi terkait adanya masalah ini ke Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto. Melalui perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto saat ditemui awak media tidak ada ditempat hanya ditemui staf ya.
Namun, hingga berita ini ditayangkan, pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto belum memberikan tanggapan sama sekali.
Hal ini menimbulkan kekecewaan dari wali murid yang merasa haknya sebagai pihak yang membayar biaya acara perlu dihormati. Ia menilai bahwa transparansi dalam penggunaan dana publik, khususnya yang melibatkan biaya orang tua siswa, harus dijaga.
Menurut perhitungan wali murid, jika biaya Rp 300 ribu dikalikan dengan total 248 siswa, jumlah yang terkumpul mencapai lebih dari Rp 74 juta. “Jumlah tersebut terlalu besar jika hanya untuk acara wisuda yang sederhana,” tegasnya. Ia mempertanyakan ke mana sisa dana yang tidak terpakai, mengingat acara yang diikuti terasa tidak sebanding dengan dana yang terkumpul.
Wali murid berharap pihak sekolah segera memberikan klarifikasi yang jelas mengenai penggunaan dana tersebut. “Kami hanya meminta penjelasan yang masuk akal, agar semua pihak merasa adil dan tidak ada yang dirugikan,” tambahnya. Hingga kini, ia masih menunggu tindak lanjut dari pihak sekolah yang belum memberikan jawaban terkait rincian biaya acara. Tim





