Brilian•Malang – Beberapa waktu yang lalu, sempat terjadi kasus hilangnya pengelihatan seorang warga dari Malang. Disebut bahwa masalah tersebut muncul akibat vaksinasi yang baru saja diperolehnya.
Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Profesor Hinky Hindra Irawan Satari SpA(K) menyampaikan tidak ada bukti pasti yang menunjukkan efek vaksinasi COVID-19 menyebabkan hilangnya penglihatan.
Terkait laporan warga Malang Joko Santoso yang kehilangan penglihatan pasca vaksinasi AstraZeneca, Hindra beserta tim telah mempelajari. Hasilnya pria tersebut didiagnosis neuritis optikus.
“Kami mempelajari mulai dari gejala dan pemeriksaan fisik, diagnosisnya neuritis optikus jadi peradangan pada bagian mata. Keadaan ini tidak muncul begitu saja saat vaksin COVID, sebelum vaksin pun kondisi ini sudah ada,” ujar Hindra pada awak media.
Sejauh ini, KIPI terparah akibat vaksin COVID-19 yang pernah terjadi adalah syok anafilaktik. berdasarkan data yang Komnas KIPI miliki, syok anafilaktik terjadi pada 9 penerima vaksin dari total 180 juta dosis yang diberikan.
“Kondisi ini ditandai dengan kolaps dan ketika diberi obat biasanya pulih kembali. Alhamdulillah semuanya tertolong,” jelasnya.
Hal yang Dilakukan Saat Kena KIPI
Hindra juga mengimbau setiap penerima vaksin untuk melaporkan berbagai gejala yang dirasakan pascavaksinasi COVID-19.
“Jadi jangan nunggu parah dulu baru lapor, setiap KIPI ya lapor untuk diamati karena sebetulnya kalau KIPI akibat vaksin itu ringan dan berlangsung singkat satu dua hari. Kalau diamati satu dua hari kemudian hilang itu berarti akibat vaksin kalau yang lebih lama dan berat itu sepertinya bukan akibat vaksin.”
Jika terjadi gejala berat, maka harus dicari tahu penyebab dari gejala tersebut karena biasanya bukan akibat vaksin.
“Data yang masuk hingga hari ini ke komnas gejala KIPI itu ringan, singkat, sembuh dengan atau tanpa pengobatan.”
Jangan Ragu Vaksinasi
Hindra berharap, masyarakat tidak ragu untuk vaksinasi karena gejala parah seperti yang dialami Joko di Malang pada dasarnya tidak dapat dibuktikan akibat vaksinasi.
Secara keseluruhan, hanya satu atau dua laporan dari luar negeri yang menyebutkan gejala serupa pasca vaksinasi. Setelah dilakukan telusur diduga ada protein vaksin yang tidak dikenal dan berkaitan dengan autoimun.
“Setelah dilakukan tes pada binatang percobaan di lab, tidak terbukti. Kita juga tidak melihat ada kondisi autoimun pada pasien. Kemudian, vaksin AstraZeneca juga biasa dikaitkan dengan trombosit tertentu tapi kondisi trombosit pada orang yang bersangkutan ini normal.”
Jadi, lanjutnya, Komnas KIPI tidak bisa menyebutkan bahwa kondisi hilangnya penglihatan Joko berkaitan dengan vaksinasi COVID-19.
“Namun, memang golongan penyakit ini sedang diamati di seluruh dunia. Kita juga melakukan pengamatan di 14 rumah sakit di Indonesia untuk melihat penyakit-penyakit yang berpotensi berkaitan dengan KIPI vaksin COVID.”
“Hingga saat ini belum cukup bukti untuk mengaitkan kebutaan yang dialami dengan vaksin yang diberikan,” pungkas Hindra mengakhiri perbincangan bersama awak media.





