Pemotongan Pohon Tua di Taman Narmada Disesalkan, BHS Minta Pelestarian Warisan Budaya Diperkuat

Sabtu, 3 Mei 2025 08:15 WIB
Pemotongan Pohon Tua di Taman Narmada Disesalkan, BHS Minta Pelestarian Warisan Budaya Diperkuat

Lombok Barat — Kekhawatiran terhadap pelestarian situs sejarah kembali mencuat setelah pemotongan sejumlah pohon tua di kawasan Taman Narmada, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, menuai kritik dari Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS). Ia menilai, tindakan tersebut mencederai nilai sejarah dan merusak wajah asli taman yang dibangun pada abad ke-18.

Saat meninjau langsung lokasi pada Kamis (1/5), BHS mengungkapkan rasa prihatinnya melihat keberadaan pohon-pohon berusia ratusan tahun yang telah ditebang. Ia menilai, pengelolaan kawasan bersejarah seharusnya lebih sensitif terhadap unsur konservasi dan tidak gegabah dalam melakukan perubahan.

“Ini bukan sekadar pohon, tapi bagian dari narasi sejarah bangsa. Memotongnya sama dengan menghapus jejak masa lalu,” ujar BHS.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, pohon kamboja dan beringin yang dipotong diperkirakan telah berusia lebih dari tiga abad. Keberadaannya bukan hanya memperindah lanskap taman, tetapi juga menjadi simbol spiritual dan daya tarik utama bagi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

“Banyak wisatawan kapal pesiar datang ke sini untuk merasakan keaslian dan ketenangan taman. Mereka kecewa melihat ikon-ikon alami justru digantikan elemen buatan,” tambahnya.

Taman Narmada dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Anak Agung Ngurah Karangasem sebagai bentuk replika dari Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak. Dengan kompleks pura, kolam alami, dan sumber mata air suci, taman ini memiliki peran penting dalam tradisi keagamaan serta menjadi salah satu peninggalan sejarah penting di NTB.

BHS menyatakan, upaya revitalisasi kawasan semestinya tidak dilakukan dengan mengorbankan elemen-elemen otentik yang menjadi identitas taman tersebut. Ia mengingatkan bahwa pembangunan harus berorientasi pada pelestarian, bukan sekadar penataan ulang.

“Modernisasi tanpa mempertimbangkan nilai sejarah justru akan menggerus karakter tempat itu sendiri,” tegasnya.

Tak hanya mengkritisi aspek konservasi, BHS juga menyoroti rendahnya angka kunjungan wisatawan asing ke Lombok. Ia menilai potensi pariwisata NTB jauh lebih unggul dibanding beberapa destinasi regional seperti Pulau Penang di Malaysia, namun kurang tergarap optimal.

“NTB punya warisan budaya dan alam yang luar biasa, tapi kunjungan wisatawan asing masih di bawah setengah juta per tahun. Ini harus jadi bahan introspeksi bersama,” ucapnya.

Sebagai bentuk solusi, BHS mendorong pemerintah daerah untuk memperkaya kawasan Taman Narmada dengan atraksi berbasis budaya, seperti pementasan seni tradisional, cerita rakyat, dan pembangunan ruang pertunjukan terbuka. Ia merujuk pada suksesnya pertunjukan Tari Kecak di Uluwatu, Bali, yang mampu menarik wisatawan dalam jumlah besar.

Di akhir pernyataannya, BHS mengingatkan bahwa upaya pengembangan pariwisata tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan nilai sejarah dan kelestarian lingkungan.

“Taman Narmada harus dijaga sebagai warisan berharga. Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenal sejarahnya lewat buku, karena peninggalannya sudah punah,” tutupnya.

Pos terkait