Surabaya — Usia kapal tidak dapat dijadikan kesimpulan awal untuk menjelaskan kecelakaan KM Virgo Transport 8. Pakar Transportasi Laut ITS Surabaya, Ir. Tri Ahmadi, PhD, mengatakan penyebab kecelakaan baru dapat diketahui setelah seluruh aspek teknis dan operasional diperiksa melalui investigasi.
“Dalam setiap kecelakaan apa pun, sebelum adanya investigasi, tidak serta-merta menyimpulkan,” ujar Tri.
Ia mengatakan, pendekatan teknis harus dimulai dengan melihat kondisi kapal sebagai objek transportasi. Pemeriksaan kemudian mencakup desain kapal hingga bagaimana kapal tersebut dioperasikan.
“Semua alat transport pada kondisi nol sebelum beroperasi memenuhi tidak secara teknis, baru kemudian operasional,” jelasnya, Jumat (18/09).
Tri menilai, persoalan umur kapal perlu ditempatkan secara proporsional. Menurutnya, usia kapal tidak otomatis menentukan kapal tersebut tidak layak beroperasi.
“Kalau desainnya dan perawatannya bagus, umur berapa pun bisa dikatakan layak untuk dioperasikan. Sebaliknya, walaupun umurnya muda, kalau desainnya bermasalah, berpotensi bermasalah,” katanya.
Dalam konteks KM Virgo Transport 8, Tri menyebut kapal tersebut didesain di Jepang dan sebelumnya pernah beroperasi di negara tersebut. Kapal juga melalui proses klasifikasi dan pemeriksaan *marine inspector* sebelum dioperasikan.
Menurutnya, konstruksi kapal juga menggunakan material marine, termasuk material high tensile yang dalam proses pembangunannya berada dalam pengawasan dan pengendalian pihak ketiga.
“Material marine dikontrol pihak ketiga, bukan membangun rumah. Owner tidak punya kekuasaan absolut atas benda yang dia beli, karena ada tripartid pihak ketiga,” ujarnya.
Tri menjelaskan, rantai keselamatan pelayaran melibatkan banyak pihak, mulai dari desain kapal, galangan, badan klasifikasi, regulator, pelabuhan, pemasok bahan bakar dan logistik hingga sumber daya manusia.
Karena itu, apabila terjadi kecelakaan, seluruh rangkaian tersebut perlu diperiksa untuk mengetahui apakah terdapat faktor yang berpengaruh terhadap kejadian.
“Kita harus berhati-hati mengambil kesimpulan. Ada dunia desain dan dunia operasional, tidak boleh dicampur aduk dalam pengambilan kesimpulan,” katanya.
Selain faktor teknis dan operasional, Tri juga menyebut kondisi eksternal seperti cuaca perlu diperhitungkan. Setiap desain kapal memiliki batas kemampuan operasi tertentu.
“Desain manusia ada batasannya. Tidak bisa berlaku all season atau di segala kondisi. Ada batas maksimum yang harus dikuasai. Kalau salah operate bisa bermasalah,” pungkasnya.





