Memahami Strategi Nol Covid China

Selasa, 25 Jan 2022 10:58 WIB
Memahami Strategi Nol Covid China
Ilustrasi China saat lockdown

Akankah Bertahan Melawan Omicron?

 

Brilian°China – Pada 23 Januari 2020, China menelurkan “nol Covid”. Menghadapi ancaman virus misterius, pemerintah di Wuhan memberlakukan lockdown pertama di dunia pada 11 juta penduduknya, menandai awal dari kebijakan tanpa toleransi yang akan menentukan respons pandemi China.

Dua tahun kemudian, penyebaran kilat varian virus corona Omicron dan melonjaknya biaya untuk mengendalikannya menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan pendekatan China tersebut. Tetapi bahkan ketika varian itu mendorong bagian lain dunia untuk hidup dengan virus, China kemungkinan akan tetap pada strategi pemberantasannya kendati akan ada korban ekonomi dan sosial dari lockkdown yang lebih ketat, menurut para pengamat.

“Omicron menimbulkan ancaman yang lebih besar (karena menular dua sampai tiga kali labih mudah daripada Delta) terhadap kebijakan nol-Covid daripada varian sebelumnya,” jelas Ben Cowling, ahli epidemiologi di Universitas Hong Kong, kepada Al Jazeera, seperti dikutip media ini, Senin (24/1).

“Mengingat alat yang tersedia di (China) daratan, saya pikir mereka bahkan akan dapat mengendalikan wabah Omicron. Tapi itu akan memakan banyak sumber daya dan menyebabkan banyak gangguan dalam prosesnya.”

Pemerintah China berlomba untuk membasmi kasus Covid menjelang Olimpiade Musim Dingin, yang akan dibuka pada 4 Februari di Beijing. Pada Senin, pihak berwenang melaporkan 223 infeksi secara nasional, jumlah tertinggi dalam hampir dua tahun, meskipun kasus telah turun menjadi dua digit dalam beberapa hari terakhir.

Setelah seorang pekerja kantoran di Beijing menjadi orang pertama di ibu kota itu yang dites positif Omicron pada Minggu, pihak berwenang setempat segera menutup kompleks perumahan dan gedung kantornya, mengunci pekerja kerah putih di dalam.

Menyalahkan virus pada surat yang terkontaminasi dari Kanada, otoritas China juga mendesak penduduk untuk meminimalkan pembelian barang-barang luar negeri dan berhati-hati dalam menangani surat internasional, kendati para ahli luar negeri meragukan kemungkinan penularan tersebut.

Sebelum munculnya Omicron, pihak berwenang dalam beberapa pekan terakhir telah mengendalikan wabah varian Delta di Xi’an, provinsi Shanxi, dengan lockdown ketat yang disalahkan karena menyebabkan kekurangan makanan dan menyebabkan setidaknya dua ibu hamil mengalami keguguran.

Tetapi ketika satu wabah dikendalikan, wabah baru muncul di seluruh negeri.

Dalam gelombang terbaru, 69 klaster keluarga ditemukan di Tianjin, yang berbatasan dengan Beijing. Seluruh populasi kota yang berjumlah 14 juta dites Covid hanya dalam dua hari, yang oleh tabloid Global Times disebut-sebut sebagai bukti “keajaiban kecepatan” China dalam mengendalikan virus.

Di seberang perbatasan, Hong Kong meningkatkan langkah-langkah jarak sosial untuk menahan klaster Omicron yang berkembang, menghentikan pembelajaran tatap muka di sekolah, menutup bar dan klub malam, dan memberlakukan jam malam pukul sampai pukul 18.00 untuk makan di restoran.

Hong Kong juga memusnahkan 2.000 hamster dan hewan kecil, dengan alasan risiko penularan dari hewan ke manusia – yang tidak ada bukti langsungnya – setelah mendeteksi kasus pertama varian Delta dalam tiga bulan pada seorang karyawan di sebuah toko hewan.

Ahli virus dari Universitas Hong Kong, Jin Dong-Yan, mengatakan kepada Al Jazeera seperti dikutip media ini, “bijaksana” untuk menggunakan kontrol yang lebih ketat sehingga lebih banyak waktu yang tersedia untuk dapat memahami Omicron dengan lebih baik.

Namun Jin mengatakan tidak perlu panik, mengingat Omicron menimbulkan gejala yang lebih ringan dan tingkat kematian yang lebih rendah di Amerika Serikat dan Eropa.

Meskipun tindakan keras China disebut berhasil mengendalikan angka kematian tetap rendah, Jin mempertanyakan kebutuhan tindakan tersebut dari sudut pandang kesehatan masyarakat ketika virus berkembang.

“Bagi mereka, ini adalah masalah kehormatan nasional dan mereka percaya bahwa mereka memiliki strategi terbaik di dunia,” jelasnya.

“Jika kita bisa mengendalikan pandemi di Wuhan, kita bisa melakukan hal yang sama di tempat lain.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *