Kurangi Plastik Sekali Pakai, Pelajar SMAN 1 Driyorejo Usulkan Fasilitas Refill Air Minum ke DPRD Gresik

Rabu, 22 Apr 2026 21:23 WIB
Kurangi Plastik Sekali Pakai, Pelajar SMAN 1 Driyorejo Usulkan Fasilitas Refill Air Minum ke DPRD Gresik
Pelajar SMAN 1 Driyorejo menyerahkan hasil survey persepsi Gen Z pada penggunaan plastik sekali pakai di Driyorejo Gresik

Gresik ° Brilian News.id – 22 April 2026  Momentum peringatan Hari Bumi dimanfaatkan pelajar SMAN 1 Driyorejo untuk menyuarakan keresahan sekaligus menawarkan solusi konkret atas persoalan lingkungan di Kabupaten Gresik. Dalam Dialog Publik Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bertema taubat ekologi, para siswa mengajukan program pengurangan plastik sekali pakai, termasuk penyediaan fasilitas isi ulang air minum di lingkungan sekolah dan ruang publik.

Audiensi tersebut dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Gresik Muhammad Syahrul Munir, Ketua Fraksi PKB Imron Rosyadi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik, serta anggota Fraksi PKB lainnya. Tiga pelajar kelas X, yakni Junnatun Nafiah, Krisna Wahyu Sahaja, dan Chantika Amira Ramadhani, mempresentasikan program TEPAR (TPS3R, Polisi Sampah, dan Water Refill Station) sebagai pendekatan terintegrasi dalam pengelolaan sampah.

Usulan tersebut berangkat dari temuan di lapangan yang menunjukkan adanya kesenjangan antara tingkat kesadaran masyarakat khususnya generasi muda dengan ketersediaan fasilitas pendukung.

“Kami melihat masih banyak masyarakat bergantung pada plastik sekali pakai. Teman-teman sebenarnya sudah terbiasa membawa tumbler, tetapi kesulitan menemukan fasilitas isi ulang, sehingga tetap membeli air kemasan,” ujar Junnatun Nafiah.

Ketiga siswa tersebut merupakan peserta Jawa Timur Young Changemaker Award 2026 (JAYCA), sebuah program yang mendorong generasi muda berkontribusi dalam perubahan sosial, khususnya di bidang lingkungan.

Krisna memberikan Paparan tentang pentingnya Refill atau isi ulang air minum sebagai upaya pengurangan plastik sekali pakai di sekolah.

Dalam forum tersebut, Fraksi PKB juga membuka ruang partisipasi publik, termasuk dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Imron Rosyadi menegaskan bahwa forum dialog publik dapat menjadi kanal penyampaian aspirasi berbasis riset.

“Dialog ini menjadi ruang diskusi dan penyampaian temuan pelajar maupun mahasiswa untuk solusi pengelolaan sampah di Gresik,” ujarnya.

Lebih lanjut, Fraksi PKB mengusulkan kebijakan internal berupa pembatasan penggunaan air minum dalam kemasan (AMDK) dalam kegiatan DPRD, penerapan sistem paperless, serta pengurangan penggunaan plastik dan styrofoam.

Temuan Mikroplastik di Bawean

Selain pelajar SMAN 1 Driyorejo, audiensi juga diikuti mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya yang memaparkan hasil riset terkait pencemaran mikroplastik di Kepulauan Bawean. Penelitian tersebut menemukan indikasi kontaminasi mikroplastik pada sejumlah biota laut, seperti ikan layur, cakalang, zooplankton, anggur laut, hingga vegetasi mangrove.

Temuan ini memperkuat urgensi pengendalian sampah plastik dari hulu, mengingat dampaknya telah menjangkau ekosistem laut.

Menanggapi paparan tersebut, Ketua DPRD Gresik menyatakan dukungannya terhadap inisiatif generasi muda.

“Kami mengapresiasi kepedulian generasi muda terhadap lingkungan. Terus bergerak, kami akan mendukung,” kata Muhammad Syahrul Munir.

Dari Nobar ke Gerakan Lingkungan

Menariknya, inisiatif lingkungan di SMAN 1 Driyorejo tidak lahir dari program formal semata. Kegiatan sederhana seperti nonton bareng (nobar) film bertema lingkungan menjadi titik awal tumbuhnya kesadaran kolektif siswa.

“Awalnya hanya nobar, tetapi kemudian berkembang menjadi diskusi dan mendorong kami untuk bergerak lebih jauh, termasuk memulai gerakan pemilahan sampah di sekolah,” ungkap Krisna.

Dalam program JAYCA, peserta dibekali pemahaman tentang bahaya plastik, kemampuan analisis melalui praktik deteksi mikroplastik, hingga penyusunan aksi berbasis data dan advokasi kebijakan.

Survei Gen Z: Kesadaran Tinggi, Fasilitas Minim

Tim JAYCA SMAN 1 Driyorejo juga melakukan survei terhadap 878 responden Gen Z di wilayah Driyorejo. Hasilnya menunjukkan:

  • 98% responden memahami bahaya plastik sekali pakai, namun penggunaannya tetap tinggi karena faktor kepraktisan dan keterbatasan fasilitas.
  • 51% menggunakan setidaknya dua plastik sekali pakai per hari.
  • 76,4% masih menggunakan plastik di rumah, dipengaruhi kebiasaan lingkungan sekitar.
  • Alasan utama penggunaan plastik adalah kepraktisan (45,1%) dan kebiasaan (30,2%).

Data tersebut mengindikasikan bahwa persoalan utama bukan pada rendahnya kesadaran, melainkan belum optimalnya dukungan sistem dan infrastruktur.

Program TEPAR: Solusi Terintegrasi

Program TEPAR yang diusulkan mencakup tiga komponen utama:

  1. TPS3R (Reduce, Reuse, Recycle)
    Penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di tingkat desa. Siswa menyoroti masih lemahnya konsistensi dalam praktik pemilahan sampah.
    “Kami masih menemukan sampah yang sudah dipilah, tetapi dicampur kembali. Bahkan, praktik pembakaran sampah terbuka masih terjadi,” ujar Chantika.
  2. Polisi Sampah
    Pengawasan berbasis komunitas dengan melibatkan unsur masyarakat seperti ibu-ibu dan karang taruna untuk mendorong perubahan perilaku.
  3. Water Refill Station
    Penyediaan fasilitas isi ulang air minum di sekolah dan ruang publik untuk mendukung pengurangan konsumsi plastik.
    “Di beberapa kota fasilitas ini sudah tersedia. Di Gresik masih terbatas, padahal ini penting,” kata Krisna.

Dari Sekolah Menuju Perubahan Sistemik

Guru pendamping, Siti Mutmainah, menegaskan bahwa gerakan ini merupakan bagian dari tanggung jawab warga negara dalam menjaga lingkungan sekaligus mendorong negara memenuhi hak atas lingkungan hidup yang sehat.

“Perubahan bisa dimulai dari hal sederhana—membawa tumbler, memilah sampah, hingga berani mengusulkan kebijakan,” ujarnya.

Audiensi ini menjadi penegasan bahwa generasi muda tidak hanya sebagai pihak terdampak krisis lingkungan, tetapi juga aktor penting dalam mendorong perubahan kebijakan berbasis data dan pengalaman lapangan. Momentum Hari Bumi 2026 pun dimaknai sebagai titik dorong untuk mempercepat transformasi menuju Gresik yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Pos terkait