Brilian°Surabaya – Insiden cekcok yang terjadi di kawasan Park Shanghai Pakuwon City, Surabaya, pada 28 April 2026, kini menyoroti peran petugas keamanan saat melerai keributan antara pemilik mobil BMW berinisial S dengan pemilik rumah berinisial F.
Perkara tersebut berujung saling lapor ke pihak kepolisian. F melaporkan dugaan penganiayaan ke Polrestabes Surabaya, sedangkan S membuat laporan terkait dugaan perusakan kendaraan miliknya yang disebut tergores cone pembatas jalan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa bermula ketika S tengah makan bersama sejumlah tamunya asal China yang sedang berlibur ke Surabaya. Saat hendak meninggalkan lokasi, mobil BMW milik S diketahui telah dipasangi cone oleh F.
S sempat meminta penjelasan kepada petugas keamanan hingga cone tersebut diturunkan. Namun beberapa saat kemudian, cone kembali dipasang hingga memicu cekcok di lokasi.
Situasi kemudian memanas setelah terjadi adu mulut antara pihak F dengan para tamu resto. Namun sumber di lokasi menyebut S tidak terlibat langsung dalam perkelahian dan hanya berada di lokasi saat keributan berlangsung.
“Yang ribut itu kelihatannya tamu dari resto, sedangkan S lebih banyak diam,” ujar sumber yang mengetahui kejadian tersebut, dan memiliki bukti video.
Keributan semakin menjadi perhatian setelah muncul rekaman video yang memperlihatkan proses peleraian oleh petugas keamanan. Dalam video tersebut terlihat adanya aksi penarikan terhadap pihak F saat situasi sedang ricuh.
Akibat proses peleraian itu, F mengalami luka pada bagian pelipis mata hingga berdarah. Pihak S menilai luka tersebut bukan akibat pemukulan, melainkan terjadi saat proses penarikan oleh petugas keamanan.
“Kalau melihat video utuhnya, yang menyebabkan F jatuh dan terluka justru saat security melerai dan menarik pihak yang terlibat,” lanjut sumber tersebut.
Dalam kasus ini, pihak manajemen kawasan juga dinilai turut bertanggung jawab karena dianggap gagal melakukan penanganan konflik secara profesional di lapangan. Sejumlah pihak menilai tindakan petugas keamanan yang melakukan penarikan secara kasar justru memperkeruh situasi hingga menyebabkan adanya korban yang jatuh dan terluka.
“Seharusnya manajemen dapat memastikan prosedur pengamanan berjalan baik dan tidak berujung tindakan fisik yang menimbulkan korban,” imbuh saksi mata.
Menariknya, kepala security perumahan yang bernama Awan saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon menegaskan bahwa petugas yang melakukan penarikan bukan berasal dari security perumahan, melainkan security dari area mall di sekitar lokasi kejadian.
“Untuk petugasnya itu bukan pihak security perumahan, melainkan security mall, untuk lebih jelasnya nanti coba saya kordinasi ama security mall,” ujar kepala security.
Fakta tersebut kini menjadi perhatian karena tuduhan penganiayaan terhadap S dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan rekaman video yang beredar di masyarakat.
Hingga kini, kedua laporan tersebut masih dalam penanganan pihak kepolisian guna memastikan kronologi sebenarnya dalam insiden yang terjadi di kawasan elit Surabaya tersebut. (kk)





