Ecoton Meminta Audensi Dengan Gubernur Jatim Atas Temuan Kerusakan Lingkungan Di Sungai Surabaya

Jumat, 9 Sep 2022 10:05 WIB
Ecoton Meminta Audensi Dengan Gubernur Jatim Atas Temuan Kerusakan Lingkungan Di Sungai Surabaya

Brilian°Gresik – Ecoton, Kamis, 8 September 2022 sekitar pukul 08.00 WIB mendatangi kantor gubernur Jawa Timur di Surabaya. Untuk menyerahkan surat permintaan audensi atas temuan kerusakan sungai Surabaya  laporan temuan kegiatan susur Sungai Surabaya 2022.

Ecoton di wakili 2 orang dari Intership Program-nya yaitu Nanda Pramudya Fadli dan Wahyu Prahardana juga merupakan mahasiswa Prodi Sejarah Uiversitas Negeri Malang menyerahkan berkas pengaduan kerusakan sungai dan permintaan audensi atas temuan-temuan dalam kegiatan Susur Sungai Surabaya selama 3 hari (29/8-31/8). Temuan-temuan itu antara lain berupa timbulan sampah, bangunan liar, pohon plastik, hasil brand audit sampah, kadar pencemaran outlet limbah dari hasil Uji sample air dan Mikroplastik.

Kholid Basyaiban manager devisi advokasi dan litiasi  ECOTON mengatakan “surat pengaduan dan permintaan audensi yang kami kirimkan, bertujuan agar Gubernur Jawa Timur selaku pemangku kepentingan segera menindak lanjuti hasil temuan tersebut melalui rekomendasi pemulihan yang kami usulkan. Karena, jika hal itu tidak segera ditindak akan berpotensi besar menyebabkan semakin parahnya pencemaran di Sungai Surabaya yang dapat berdampak ke kesehatan manusia dan rusaknya ekosisitem sungai.” Ujarnya

Bacaan Lainnya

Pada Kegiatan susur Sungai Surabaya yang dilakukan selama 3 hari tim Relawan dan Ecoton berhasil mengidentikasi dan mengelola data berupa 1152 bangunan liar, 475 timbulan sampah liar, 566 pohon plastik dan 7 outlet limbah selama menyusuri sungai Surabaya dari Mlirip, Mojokerto sampai Gunungsari, Kota Surabaya.

Khalid menambahkan, “Melalui surat ini harapannya ada dorongan yang dilakukan oleh pemangku kepentingan/ istansi yang berwenang untuk mendorong produsen polluter sampah untuk segera membuat dokumen/perencanaan peta jalan pengurangan sampah seperti apa yang telah diamanatkan dalam Permen LHK Nomor 75 tahun 2019 Tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Dokumen perencanaan pengurangan sampah tersebut , merupakan bentuk upaya keseriusan yang dilakukan produsen untuk melakukan kiat tanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan.” imbuh Kholid Basyaiban manager devisi advokasi dan litigasi ECOTON.

Lanjut kholid, “Dari hasil uji kualitas air di outlet – outlet perusahaan, beberapa parameter menunjukkan angka yang melebihi baku mutu yang tertera di PP Nomor 22 tahun 2021 Tentang Perlindungan dan Pengelolahan Lingkungan Hidup, harapannya, istansi yang berwenang lebih sigap dan intens melakukan pengawasan terhadap aktivitas buangan di outlet perusahaan di sepanjang Sungai Surabaya,” tandas nya.

Sedangkan hasil Uji mikroplastik yang dilakukan berhasil mengumpulkan data jumlah mikroplastik yang didapatkan, jenis mikroplastik yang paling banyak adalah fragmen dengan jumlah presentasi 57%. Mikroplastik jenis fragmen berasal dari potongan atau remahan sampah plastik bahan keras yaitu jenis botol minum, sachet kemasan, tutup botol dan lain-lain. Kedua, Jenis Filamen memiliki presentasi sebesar 23%. Mikroplastik ini berasal dari kantong plastik tipis dan jaring nelayan. Ketiga, Jenis mikroplastik Fiber memiliki presentasi sebesar 13%. Mikroplastik ini berasal dari sampah kain sintetis. Keempat Jenis Granula memiliki presentasi sebesar 5%. Mikroplastik ini berasal dari produk perawatan tubuh (Microbeads). Kelima, Jenis mikroplastik Foam memiliki presentasi sebesar 2%. Dimana mikroplastik ini berasal dari Styrofoam.

Nanda Pramudya mahasiswa prodi Sejarah Universitas Negeri Malang yang mengikuti kegiatan susur sungai selama 3 hari mengungkapkan. “Pemerintah Provinsi Jawa Timur harus  lebih memperhatikan masalah lingkungan seperti pencemaran di aliran Sungai Surabaya ini. Mengingat air dari Sungai Surabaya ini juga dijadikan sebagai bahan air minum oleh PDAM, sungai surabaya juga memberikan fungsi yang sangat penting sejak zaman kolonial mulai untuk irigasi, transportasi, sumber makanan dan menjadi jalur perdagangan utama. Oleh karena itu harus dijaga ekosisitem dan memulihkan kembali kulitas airnya. Serta, perlunya pengelolaan yang baik atas sungai Surabaya, menjadi hal penting dan dijadikan program utama untuk dilakukan”. Tutupnya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *