Brilian°Jombang – Pemasangan bronjong pada titik tanggul ambles dan rawan longsor di afvoer Ndero, Dusun Kedungmacan, Desa Kedungbetik, Kecamatan Kesamben, Jombang mulai dilakukan.
Disampaikan Mu’alim, Juru Pengairan Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Sumber Daya Air (UPT PSDA) Kecamatan Kesamben, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jombang perbaikan dilakukan di kedua sisi saluran.
Sisi kiri saluran panjangnya 35 meter sudah ditangani. Sebagian dibronjong dan sebagian ditangkis manual. Sementara sisi kanan sepanjang 30 meter dilakukan penanganan manual.
Kerusakan tanggul terjadi setelah proses normalisasi saluran dilakukan. Tanggul diketahui mengalami ambles dan longsor beberapa hari setelah pengerjaan. Dari total penanganan di sisi kiri, sepanjang 12 meter dipasangi bronjong. Sedangkan sisanya diperkuat dengan tanggul manual.
’’Setelah dinormalisasi ternyata tanggulnya ambles dan longsor. Sekitar tiga hari setelah ditangani ternyata ambles lagi. Akhirnya kami koordinasi dengan desa dan diputuskan dibronjong,’’ imbuhnya.
Titik tersebut memang kerap mengalami kerusakan meski sebelumnya sudah beberapa kali ditangani secara manual.
’’Dulu juga pernah seperti itu. Sudah pernah dinormalisasi manual, tapi sering ambles lagi, apalagi kalau banjir,’’ tuturnya.
Selain afvoer Ndero, Dinas PUPR Jombang juga menangani tanggul ambles di wilayah lain. Yakni afvoer Watudakon di Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben.
”Di Watudakon, tanggul afvoer Watudakon juga ambles setelah dinormalisasi,’’ ujarnya.
Namun penanganan di Desa Watudakon berbeda dengan Kedungbetik.Jika di afvoer Ndero menggunakan bronjong, di Watudakon penguatan tanggul dilakukan memakai dolken dan gedeg guling.
”Kalau di Watudakon pakai dolken dan gedeg guling, jadi tidak sampai dibronjong,” katanya.
Sementara itu, Kasun Kedungbetik, Rokhim, membenarkan tanggul afvoer Ndero yang ambles kini sudah mulai ditangani.
”Sudah dipasang bronjong. Yang lain juga dipasang dolken dan jumbo bag,” ujarnya.
Diharapkan, normalisasi saluran dan penguatan tanggul tersebut dapat mengurangi potensi banjir di wilayah setempat.
Selama ini, saluran afvoer Ndero menjadi salah satu penyebab banjir yang kerap merendam permukiman warga hingga lahan pertanian saat debit air meningkat.





