Brilian°Sumatera Utara – Matanya terfokus pada piranti yang dipegang. Wajahnya, menunjukkan keseriusan. Kedua telinganya tertutup penuh oleh headphone. Dengan tenang, dia mulai merekam suara apa saja yang ada di sekelilingnya.
Dialah Rani Jambak (29). Seorang gadis berdarah Minangkabau yang lahir dan besar di Kota Medan, Sumatera Utara. Rani memiliki cara tersendiri dan unik dalam mencari silsilah keluarga dan budaya asalnya, tidak seperti orang pada umumnya yang menggali informasi dari sanak saudara.
Rani merupakan generasi ketiga dari garis keturunan kedua orang tuanya yang merantau, dan besar di tengah Kota Medan yang multikultural.
Dalam mencari identitas silsilah budaya dan keluarga, Rani mengumpulkan bebunyian khas dari etnis Minang di tanah leluhurnya di Sumatera Barat (Sumbar). Niat untuk memburu bebunyian itu muncul pada tahun 2013. Saat itu Rani buta akan silsilah dari keluarganya yang berasal dari Ranah Minang tapi menetap di Kota Medan.
“Saat kuliah teman-teman mayoritas etnis Batak, Karo dan Melayu. Mereka tahu bahasa leluhur, daerah dan silsilah kekerabatan berdasarkan marga. Sedangkan aku tidak tahu sama sekali. Dari situ titik awal pencarian jati diri terutama tentang identitas budaya aku sendiri sejak tahun 2013,” jelas Rani seperti dilansir media ini beberapa waktu lalu.
Kemudian, pada tahun 2018 Rani memulai perjalanannya memburu bebunyian khas di tanah leluhurnya di Sumbar. Mulai dari suara musik tradisional, alunan alat tenun, seduhan kopi kopi kawa khas Sumbar, hingga tradisi masyarakat Minangkabau berburu babi hutan.
Rani pun bercerita mengapa penasaran dengan identitas leluhurnya. Melalui sebuah proyek suara Minangkabau, Rani berusaha untuk terhubung kembali dengan leluhurnya dengan cara mengumpulkan bebunyian.
“Itu yang membuat aku ingin mencari tahu tentang sejarah, falsafah, maupun nilai-nilai spiritual yang diperkenalkan pada zaman dahulu. Tapi sekarang menjadi sangat jarang ditemukan,” ungkapnya.
Dalam tahapan berburu beragam bebunyian, Rani kerap mengunjungi tempat yang paling banyak terdapat aktivitas masyarakat, misalnya pasar hingga ke tempat-tempat modern. Di situ Rani merekam bebunyian mulai dari dialek bahasa, hingga aktivitas tradisional maupun ritual yang menjadi kebiasaan masyarakat adat. Aktivitas merekam bebunyian itu dilakukan Rani seorang diri.
Menurut Rani, aktivitas merekam suara itu sama seperti menyimpan arsip untuk masa depan, karena suara-suara ini nantinya juga akan menjadi artefak sejarah. Suara-suara yang telah direkam juga memiliki kelebihan untuk mengidentifikasi sebuah keadaan. Dari suara itu banyak komponen yang bisa dimanfaatkan untuk membaca masa lalu.
“Untuk masa mendatang, suara-suara yang sudah direkam bisa menjadi satu bukti sejarah mengenai apa yang terjadi saat tahun sebelumnya,” ucapnya.
Kemudian, dalam berburu bebunyian yang dilakukan Rani tak melulu berjalan mulus. Dirinya pun beberapa kali menemui hambatan kecil mulai dari kondisi alam, perbedaan bahasa, dan budaya yang kerap menimbulkan salah tafsir. Namun hambatan itu hanya dianggap seperti kerikil kecil yang pasti hadir dalam setiap perjalanan.
“Ketika kami datang ke suatu tempat biasanya kami sudah punya daftar apa yang mau direkam. Tapi karena suara sifatnya momentum artinya kami juga harus siap dengan segala situasi. Saya juga harus sensitif dengan berbagai suara yang didengar,” jelas Rani.
Kendati bebunyian yang direkamnya bakal dianggap hal biasa oleh masyarakat Minangkabau sendiri. Namun bagi orang lain yang tidak menetap di tanah leluhurnya bakal dianggap sebagai suatu penemuan yang unik. Adapun tujuan akhir dari perburuan bebunyian itu adalah untuk pengarsipan suara, yang nantinya di masa depan akan bermanfaat bagi masyarakat.
“Terlebih untuk praktik musikal bagi saya soundscape bisa menjadi alternatif dalam komposisi musik kontemporer,” tutur Rani.
Selain berburu bebunyian di tanah leluhurnya. Kini, Rani juga tertarik untuk merekam bebunyian di berbagai kota, dan telah dilaksanakan di Medan, Langkat, Lombok, Yogyakarta, Solo, serta Bali. Suara-suara alam, aktivitas masyarakat, hingga bebunyian yang dihasilkan dari kegiatan adat budaya suatu daerah.
“Aku mencoba merekam suara-suara yang bisa menjadi alternatif untuk mempelajari sejarah,” tandasnya mengakhiri perbincangan bersama awak media.





