Brilian°Surabaya – Esti Asih Nurdiah, S.T., M.T., seorang dosen program studi (prodi) Arsitektur UK Petra berinisiatif menjadikan bambu sebagai bahan penelitian doctoral thesis (S3) nya di The University of Sheffield-United Kingdom.
Dalam melanjutkan pendidikan tersebut, Esti mendapatkan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari pemerintah RI.
Esti menuturkan, jika ia tertarik menjadikan bambu sebagai bahan penelitiannya, sebab dalam dunia Arsitektur masih jarang yang meneliti secara khusus seberapa dalam kurva lengkungan yang bisa dibuat oleh bambu menjadi struktur gridshell tanpa melukai batangnya.
“Kampus menjadi tempat uji bambu thesis doctoral saya, dan saya bekerja sama dengan Sahabat Bambu sebagai penyedia material bambu dan tukang ahli bambu,” kata Esti, Rabu (5/1).
Dalam penelitiannya, Esti membuat dua model bangunan yaitu struktur cangkang dengan ukuran 10.80 x 10.80 meter dengan bahan bambu bulat, dan kini telah didirikan di area kampus Timur UK Petra. Sedangkan model kedua berukuran 8.40 x 8.40 meter dengan bahan bambu bilah.
Menurut Esti, bambu yang tumbuh di tanah air ini jenisnya sangat banyak. Namun dalam penelitian kali ini, ia menggunakan bambu jenis apus (Gigantochloa apus) dan bambu petung (Dendrocalamus asper).
“Bambu ini sebenarnya merupakan bahan yang mudah untuk dipanen. Hanya dengan waktu tiga hingga lima tahun, bambu ini bisa dipanen atau langsung digunakan namun tidak dapat bertahan lama.
Jika ingin bertahan lama maka harus melalui proses pengawetan terlebih dahulu. Proses pengawetan ini untuk membunuh serangga dan jamur yang biasanya membuat bambu ini menjadi tak bertahan lama. Pengawetan bisa dilakukan secara dua metode yaitu tradisional dan bahan kimia,” jelasnya.
Terkait proses penyatuan untuk model bangunan pertama, Esti melengkungkan batang bambu yang dibantu dengan teknik pemanasan. Sedangkan pendirian bangunan model kedua dengan mengangkat jalinan bilah bambu kemudian mendorong di posisi empat sudut bangunan hingga membentuk bangunan melengkung seperti dome.
Pembebanannya menggunakan paving block satu persatu di beberapa titik yang secara perlahan diberikan beban sedikit demi sedikit agar bisa diketahui sampai mana kekuatan jalinan bambu tersebut.
Dari hasil penelitian tersebut, Esti menyimpulkan bahwa potensi bambu Indonesia sangat besar digunakan sebagai bahan Arsitektur.
“Bambu Indonesia memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai struktur bangunan dengan bentuk lengkung. Kekuatan bambu telah teruji dan membutuhkan desain dan teknik konstruksi yang tepat agar bisa membentang dan menaungi ruang yang besar,” tegasnya kepada awak mediamengakhiri perbincangan.





