Ucapan ‘Paeh’ Erwin dalam Debat Publik Jadi Sorotan, Dinilai Tak Tepat oleh Budayawan

Jumat, 22 Nov 2024 22:28 WIB
Ucapan ‘Paeh’ Erwin dalam Debat Publik Jadi Sorotan, Dinilai Tak Tepat oleh Budayawan

Brilian•BANDUNG – Ucapan “paeh” yang disampaikan oleh Calon Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, dalam debat publik terakhir pasangan calon (paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung, terus menjadi pembahasan hangat. Bagi sebagian kalangan, terutama sastrawan dan budayawan, ungkapan tersebut dianggap tidak sesuai dengan etika dalam forum resmi yang disaksikan masyarakat luas.

Sastrawan Sunda senior, Etti Rochaeti Soetisna atau Ceu Etti, menyatakan bahwa calon pemimpin harus memperhatikan tutur kata mereka di depan publik. Menurutnya, meskipun kata “paeh” biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari masyarakat Sunda, penggunaannya di forum resmi seperti debat harus lebih bijaksana.

“Sebagai calon pemimpin, harus berhati-hati dengan ucapan. Kata ‘paeh’ ini tidak sesuai dengan tata krama, terutama dalam suasana yang serius dan formal seperti debat publik,” ujar Ceu Etti, Jumat (22/11/2024).

Ia menambahkan, seorang pemimpin perlu memahami situasi dan kondisi sebelum menyampaikan sesuatu. “Bukan masalah bahasa Sunda-nya, tapi konteksnya. Kalau di depan publik, apalagi acara resmi, harus lebih sopan,” jelasnya.

Matdon: Calon Pemimpin Harus Pandai Menjaga Ucapan

Pandangan serupa juga disampaikan sastrawan dan budayawan Sunda, Matdon. Ia menilai Erwin belum mampu memosisikan dirinya sebagai pemimpin yang dapat mengontrol ucapan dalam situasi formal.

“Debat publik itu acara resmi, ditonton oleh banyak orang. Kata seperti ‘paeh’ mungkin biasa dalam pergaulan sehari-hari, tetapi harus dihindari dalam suasana seperti ini,” kata Matdon.

Matdon menegaskan bahwa seorang pemimpin yang baik harus memiliki kemampuan menjaga citra dirinya, termasuk melalui tutur kata. “Bahasa mencerminkan karakter. Jika dalam debat saja tidak bisa menjaga ucapan, bagaimana nanti saat menjadi pemimpin?” pungkasnya.

Ucapan ini telah memicu diskusi di masyarakat, terutama dalam hal bagaimana seorang calon pemimpin seharusnya menunjukkan sikap yang dapat menghormati budaya dan etika. Dalam kontestasi politik, setiap langkah dan ucapan kandidat menjadi sorotan dan berpotensi memengaruhi pandangan pemilih.**

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *