Polemik Gelang Berchip Bagi Pasien Karantina

Senin, 17 Jan 2022 13:28 WIB
Polemik Gelang Berchip Bagi Pasien Karantina
Polemik Gelang Berchip Bagi Pasien Karantina

Brilian°Jakarta – Pengamat kebijakan publik, Riant Nugroho menilai, rencana pemakaian gelang berchip kepada orang yang menjalani karantina terlalu berlebihan. Alokasi anggaran untuk pengadaan gelang tersebut berpotensi diselewengkan.

“Kebijakan berlebihan, berpotensi diselewengkan, dan terjadi pemborosan uang rakyat yang dikuasakan pada negara. Tidak perlu dilakukan,” jelasnya kepada media ini, Senin (17/1).

Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah membangun satu sistem untuk menopang upaya tracking seperti penggunaan aplikasi Pedulilindungi. Adanya rencana gelang berchip, ia kembali menekankan bahwa langkah tersebut cukup berlebihan.

“Tidak perlu, berlebihan,” pungkasnya.

Sementara, Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia Dicky Budiman mengatakan, langkah tersebut turut menjadi penolong lantaran tingkat testing di Indonesia sudah mulai menurun.

Dicky menuturkan, ada banyak kemungkinan penyebab tingkat testing dan tracking terhadap kontak erat mulai menurun. Dan itu tidak hanya terjadi di Indonesia, seluruh dunia dikatakan Dicky mengalami hal sama.

“Ya, bisa membantu, karena mungkin sekarang banyak negara kapasitas testingnya menurun dibandingkan saat Delta,” katanya seperti dilansir media ini, Minggu (16/1).

Untuk itu, kata Dicky, dengan adanya pemakaian gelang dengan tertanam chip di dalamnya, pemerintah diharapkan dapat meningkatkan kapasitas tracking terhadap kontak erat. Khususnya di tengah penularan virus varian Omicron.

“Omicron jauh lebih banyak kasus infeksinya. Sehingga membutuhkan upaya masif testing dan tracking,” pungkasnya.

Dia berujar, untuk pemakaian gelang berchip itu sebaiknya hanya dilakukan di lokasi isolasi atau karantina. Setelah orang tersebut telah selesai menjalani masa karantina gelang sebaiknya dilepas.

“Sama seperti di rumah sakit kan? Dipakaikan gelang setelah pulang ke rumah ya lepas saja,” ucapnya.

Pihak Satgas masih belum menjelaskan mengenai rencana gelang berchip tersebut.

Sebelumnya, Kepala Sub Bidang Tracing Satgas Penanganan Covid-19 Koesmedi Priharto mengungkapkan, pihaknya tengah mengkaji rencana penggunaan gelang chip untuk orang yang sedang karantina. Gelang dengan chip itu nantinya bakal memantau pergerakan orang yang sedang karantina dari jarak jauh.

“Ini sedang kita coba cari ya, apakah mungkin pasien karantina diberikan gelang. Kemudian, kita bisa memonitor dengan chip yang ditaruh di sana. Orang ada di mana, posisinya seperti apa, kan kita bisa lihat dari kondisi itu karena teknologi sangat memungkinkan saat ini” kata Koesmedi dalam diskusi polemik MNC trijaya ‘bersiap hadapi gelombang Omicron’, Sabtu (15/1).

Menurutnya, aplikasi PeduliLindungi tak bisa selalu mendeteksi keberadaan orang yang sedang karantina. Berbeda dengan menggunakan teknologi chip.

“Kalau PeduliLindungi kan ditaruh di handphone, kan kalau di handphone bisa ditinggal sama dia. Kemudian, dia pergi ke mana-mana kita tidak bisa monitor dia. Berbeda dengan chip, dipasang di badan orang itu sendiri,” jelasnya seperti dikutip media ini.

Dia mengatakan, bahwa Satgas ingin mencari cara agar orang yang dikarantina bisa menerima dengan baik. Sebab, selalu ada masalah dengan orang yang sedang menjalani karantina.

“Kita harus mulai mencari model, artinya model apa sih yang bisa kita lakukan supaya karantina itu bisa diterima dengan enak, kita pun petugas bisa memonitor dengan baik,” tegasnya pada awak media mengakhiri perbincangan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *