Pasar Gotong Royong di Persimpangan, DPRD Kota Probolinggo Dorong Transformasi Total Demi Hidupkan Kembali Nadi Ekonomi Kota

Minggu, 11 Jan 2026 02:41 WIB
Pasar Gotong Royong di Persimpangan, DPRD Kota Probolinggo Dorong Transformasi Total Demi Hidupkan Kembali Nadi Ekonomi Kota

Brilian°PROBOLINGGO — Kondisi Pasar Gotong Royong kembali menjadi perhatian publik. Sejumlah anggota DPRD Kota Probolinggo mendorong langkah evaluasi total terhadap keberadaan pasar tersebut, menyusul temuan banyaknya stan yang tidak beroperasi dan menurunnya aktivitas perdagangan.

Dorongan itu disampaikan usai inspeksi lapangan Komisi II DPRD Kota Probolinggo. Dalam tinjauan tersebut, dewan menemukan sebagian besar bedak dan kios tidak terisi, beberapa bahkan dalam kondisi tidak terawat. Fakta ini memunculkan satu kesimpulan penting: Pasar Gotong Royong tidak sedang baik-baik saja.

Ketua Komisi II DPRD Kota Probolinggo, Ryadlus Sholihin Firdaus, menyatakan bahwa pasar yang berada di kawasan strategis pusat kota seharusnya menjadi simpul ekonomi rakyat. Namun realitas di lapangan justru menunjukkan fungsi itu tidak berjalan optimal.

Bacaan Lainnya

“Kalau aset publik dibiarkan kosong dan mati aktivitas, maka bukan hanya pasar yang rugi, tapi kota ini ikut kehilangan denyut ekonominya,” ujarnya kepada awak media.

DPRD memandang kondisi tersebut tidak cukup disikapi dengan tambal sulam kebijakan. Dewan mendorong Pemerintah Kota Probolinggo berani mengambil langkah strategis dan terukur, mulai dari kajian menyeluruh, penataan ulang, hingga opsi perubahan konsep pasar agar kembali relevan dengan kebutuhan pedagang dan masyarakat.

Usulan yang mengemuka adalah perlunya transformasi besar terhadap Pasar Gotong Royong. Bukan sekadar memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga membangun ulang sistem pengelolaan, model usaha, dan tata ruang pasar supaya lebih hidup, tertib, dan memiliki daya tarik ekonomi.

Dewan juga menekankan pentingnya penataan administrasi dan ketegasan pengelolaan. Stan pasar, menurut DPRD, harus ditempati pelaku usaha yang aktif dan memenuhi kewajiban, termasuk retribusi. Jika ada lapak yang terus kosong atau tidak produktif, pemerintah diminta melakukan evaluasi menyeluruh agar aset daerah tidak terus menjadi beban.

Langkah ini, menurut DPRD, bukan bertujuan mematikan pasar, tetapi justru membuka peluang menghidupkannya kembali dengan pendekatan baru. Pasar Gotong Royong dinilai masih memiliki potensi besar jika dikelola dengan konsep yang sesuai perkembangan zaman dan pola belanja masyarakat.

“Kita tidak sedang bicara menutup ruang ekonomi, tapi bagaimana menciptakan ruang ekonomi yang benar-benar bekerja,” tegas Ryadlus.

Dorongan DPRD ini sejalan dengan agenda penguatan pasar rakyat yang tengah didorong di Kota Probolinggo. Pemerintah daerah diharapkan menjadikan momentum ini sebagai titik balik untuk menghadirkan pasar yang bersih, tertata, dan mampu menjadi pusat perputaran ekonomi kecil menengah.

Bagi para pedagang, wacana ini membuka harapan baru. Pasar yang dikelola dengan baik tidak hanya menyediakan tempat berjualan, tetapi juga menghadirkan kepastian usaha, rasa aman, serta peluang berkembang. Sementara bagi masyarakat, pasar yang hidup berarti akses kebutuhan pokok yang lebih mudah, murah, dan manusiawi.

Kini, bola berada di tangan Pemerintah Kota Probolinggo. Apakah Pasar Gotong Royong akan dibiarkan terus meredup, atau dijadikan proyek kebangkitan ekonomi rakyat, sangat ditentukan oleh keberanian mengambil keputusan berbasis kajian, kepentingan publik, dan visi jangka panjang.

Yang jelas, pesan DPRD tegas: aset publik tidak boleh mati perlahan. Ia harus dihidupkan, atau diubah agar kembali memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

 

Redaksi

Pos terkait