Lumajang, Brilian-news-Rupanya aliran dana bantuan Semeru dari dulu banyak yang mengawasi penditribusian apakah tepat sasaran atau tidak. Kali ini ormas Laskar Sakera (Satuan Keamanan Rakyat) Lumajang, tampil ke permukaan mempertanyakan anggaran Rp. 10 milliar yang dikelola oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Lumajang, Kamis (18/12/2025).
H.Nur samsi ketua DPC Laskar Sakera Lumajang mengaku, pihaknya menemukan sebuah indikasi penyimpangan, jadi PGRI Lumajang harus terbuka kepada publik terkait keperuntukan dana tersebut.
Ormas Laskar Sakera mengungkapkan di tahun 2020 – 2022 PGRI Lumajang terdata menghimpun dana sebesar Rp. 8 milliar, lalu di tahun 2022 – 2024 sebesar Rp. 2 milliar.
“Kami pertanyakan. Saat itu hasil pengumpulan dana dialokasikan ke PGRI Lumajang oleh PGRI se-Indonesia sekitar 10 M disalurkan untuk apa saja pada saat erupsi semeru” ucap Nur Samsi.
Selebihnya mengenai indikasi yang dihimpun, Nur Samsi mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak berwenang, sedianya ditindaklanjuti. “Kami tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah. Kami tidak menjustifikasi, maka dari itu disamping keterbukaan, kami berharap semua data indikasi yang kami catat, untuk dikupas sampai tuntas,” tambahnya.
Ditahun tersebut, Ketua PGRI Lumajang dijabat oleh Kisnanto M.Pd. pada media mengakui jika penghimpunan dana itu pada waktu terjadinya erupsi.
Ada dua sumber anggaran, menurutnya untuk dana erupsi dan dari iuran anggota. “Kalau dana erupsi, kami peruntukkan pada yang berhak dan untuk dana iuran kami pergunakan sesuai peruntukannya sesuai AD/ART,” ucapnya saat dikonfirmasi media.
Lebih jauh Kisnanto menjelaskan, untuk bantuan Erupsi Semeru pihaknya mengalokasikan untuk siswa-siswi terdampak, membangun Fasum (Fasilitas Umum) di hunian sementara (Huntara) dengan membangun 19 unit huntara diserahkan ke NU Peduli.
“Rp. 1,5 Miliar dan 390 Juta (untuk fasum dsn huntap). Sementara hasil iuran guru tergabung PGRI diperuntukkan untuk operasional selama 5 tahun yang Rp. 2 Milliar,” kata Kisnanto.
Perbedaan hitungan tersebut memunculkan berbagai asumsi negatif dan indikasi korupsinya menjadi nampak. Dilain sisi, angka tersebut memantik persoalan mendasari selisih angka yang dirasa oleh Ormas Sakera Lumajang, cukup siginifikan. (Den)





