Menabur Sampah Plastik, Menuai Mikroplastik Dalam Rantai Makanan Di Barito Kalimantan Selatan

Sabtu, 3 Sep 2022 00:06 WIB
Menabur Sampah Plastik, Menuai Mikroplastik Dalam Rantai Makanan Di Barito Kalimantan Selatan

Brilian°Gresik – Tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) berkolaborasi dengan Perkumpulan Telapak Badan Teritori Kalimantan Selatan, melakukan ekspedisi Sungai Kota Banjarmasin pada 26 Agustus 2022 hingga 1 September 2022.

“Ekspedisi sungai di Banjarmasin ini menyusuri sungai Kuin, sungai Martapura dan sungai Barito, karena ketiga sungai ini adalah Daerah aliran sungai Barito, termasuk dalam sungai Nasional karena hulunya ada di Kalimantan Tengah dan hilirnya di Kalimantan Selatan, dengan menggunakan perahu klothok kami menyusuri sungai dengan melakukan uji kualitas air, uji mikroplastik dan pemetaan timbulan sampah di sungai” Ungkap Prigi Arisandi

Lebih lanjut peneliti ESN ini menjelaskan bahwa selain mengambil contoh air tim ESN juga mengambil 10 spesies ikan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat untuk kemudian diuji kadar mikroplastiknya. Kandungan mikroplastik terbanyak ditemukan dalam lambung ikan Lais (135 partikel mikroplastik dalam satu ekor), sedangkan kandungan mikroplastik paling sedikit ada pada ikan Seluang (18 partikel mikroplastik dalam satu ekor). Rata-rata kandungan mikroplastik dalam lambung ikan di DAS Barito adalah 53 partikel mikroplastik dalam satu ekor.

Semua air sungai di DAS Barito telah tercemar Mikroplastik dengan rata-rata 56 partikel mikroplastik (PM) dalam 100 liter air. Kandungan mikroplastik terbanyak di ketahui ada pada lokasi sungai Martapura tepat didepan Patung bekantan yaitu sebanyak 125 PM/100 liter.

“Mikroplastik adalah serpihan plastik berukuran kurang dari 5 mm yang berasal dari hasil pemecahan dari sampah plastik seperti tas kresek, Styrofoam, botol plastik, sedotan, alat penangkap ikan, popok dan sampah plastik lainnya yang dibuang di aliran sungai Barito, karena paparan sinar matahari dan pengaru fisik pasang surut maka sampah plastik ini akan rapuh dan terpecah menjadi remah-remah kecil,” Ujar Prigi Arisandi

lebih lanjut Direktur eksekutif Inspirasi menjelaskan bahwa ada beberapa penyebab utamanya;

1. Minimnya layanan pengangkutan sampah dari rumah-rumah penduduk ke Tempat Pengumpulan sampah sementara. Secara umum kota/kabupaten di Indonesia hanya mampu melayani kurang dari 40% penduduk, sehingga 60% penduduk Indonesia tidak terlayani pengangkutan sampah, mereka umumnya membakar sampah, menimbun dan membuangnya ke sungai, tiap tahun Indonesia membuang 3 juta ton sampah plastik ke laut melalui sungai dan menjadikan Indonesia menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua setelah China.
2. Minimnya kesadaran memilah sampah dan membuang sampah pada tempatnya, Indeks kepedulian lingkungan penduduk Indonesia masih rendah yaitu 0,56 dari skala 0-1, rendahnya kepedulian inilah yang menyebabkan penduduk Indonesia membuang sampah seenaknya, termasuk membuang sampah ke sungai
3. Masifnya penggunaan Plastik sekali pakai, plastik sekali pakai seperti tas kresek, sedotan, Styrofoam, popok dan botol plastik masih massif digunakan di Kota Banjarmasin sehingga perlu pengendalian.
4. Tidak efektifnya regulasi pengurangan penggunaan plastik, adanya regulasi pengurangan plastik sekali pakai tanpa adanya penegakan hukum hanya menjadi macan kertas.

Ancaman Baru Sungai Barito
Sebelumnya Penelitian National Research and Innovation Agency pada tahun 2008 menyebutkan bahwa perairan Muara Sungai Barito terkontaminasi Logam berat Merkuri (Hg), Timbal (Pb), cadmium ( Cd), dan Tembaga (Cu) meskipun kadarnya tidak melebihi baku mutu namun jika tidak ada upaya pengendalian dari Pemerintah maka akan ada potensi peningkatan kadar logam berat dalam air. Keberadaan mikroplastik dalam air DAS Barito sangat berbahaya bagi ekosistem sungai Barito. Mikroplastik termasuk senyawa pengganggu hormone sehingga apabila masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi system hormone reproduksi dan metabolisme. “Salah satu dampak mikroplastik dalam tubuh manusia adalah diabetes mellitus, penurunan kualitas dan kuantitas sperma dan menopause lebih awal” ungkap Prigi Arisandi

Prigi juga menambahkankan bahwa mikroplastik di air akan mengikat polutan di air seperti logam berat, pestisida dan detergen dalam air. “Jika dalam air terdapat mikroplastik maka mikroplastik akan menyerap polutan dalam air, dalam sungai Barito saat ini tercemar logam berat Hg, Pb, Cd dan Cu maka adanya mikroplastik akan menyerap dan mengikat logam berat, mikroplastik juga bisa menjadi media tubuh bakteri pathogen.” Tutup Prigi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *