Jakarta – Industri galangan kapal nasional tengah menghadapi gelombang kenaikan biaya produksi yang dinilai berpotensi mengganggu keberlangsungan usaha. Pelaku industri kini harus menghadapi lonjakan harga energi, bahan baku, serta pelemahan rupiah yang membuat biaya impor semakin mahal.
Ketua Umum Iperindo Anita Puji Utami mengungkapkan kondisi tersebut mulai memberikan tekanan serius terhadap perusahaan galangan kapal di berbagai daerah. Karena itu, pihaknya meminta pemerintah memberikan dukungan melalui kebijakan yang dapat meringankan beban operasional industri.
Salah satu usulan yang disampaikan adalah pemberian akses BBM subsidi bagi kebutuhan industri galangan kapal. Menurut Anita, kebijakan tersebut dapat membantu menjaga efisiensi biaya produksi sekaligus mempertahankan daya saing industri nasional.
Ia menjelaskan ketergantungan terhadap bahan baku impor masih cukup tinggi, mencapai sekitar 45 persen dari total kebutuhan industri. Situasi tersebut membuat pelaku usaha sangat rentan terhadap fluktuasi kurs dolar Amerika Serikat.
Selain tekanan nilai tukar, kenaikan harga berbagai komponen produksi juga menjadi tantangan tersendiri. Harga baja, cat kapal, oli, bahan plastik, hingga anoda mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Banyak kontrak pembangunan maupun perbaikan kapal yang ditandatangani saat nilai tukar rupiah masih berada pada level lebih stabil. Namun ketika proses pengadaan material dilakukan, biaya yang harus ditanggung perusahaan melonjak jauh lebih tinggi.
Dampaknya mulai terlihat pada penyesuaian tarif jasa reparasi kapal yang diperkirakan naik sekitar 20 persen. Sementara sejumlah proyek pembangunan kapal baru kini memasuki tahap pembahasan ulang terkait penyesuaian biaya dengan pemilik kapal.
Menurut Anita, tanpa dukungan kebijakan yang tepat, tekanan biaya dapat mengurangi daya saing industri galangan kapal nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.





