PASURUAN | BRILIAN-NEWS – Warga masyarakat empat Desa, (Desa Baujeng, Desa Ngembe, Desa Kenep) Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, dan Desa Kemirisewu, Kecamatan Pandaan, yang terdampak oleh aliran sungai Wangi, yang sekarang sudah berubah warna dan menimbulkan bau menyengat, menyebabkan warga mulai resah kembali.
Dugaan kuat beberapa perusahaan di sekitar wilayah tersebut, kembali membuang limbah tanpa proses Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), sehingga aliran sungai Wangi kembali tercemar hingga berubah warna dan menimbulkan bau tak sedap.
Menurut keterangan salah satu warga, pasca didemo oleh warga dari empat Desa terdampak, beberapa perusahaan di sekitar wilayah tersebut, selama dua minggu tidak membuang limbah ke sungai, aliran air di Sungai Wangi kembali jernih dan warga pun senang.
“Tapi setelah 2 minggu, Perusahaan kembali berulah, limbah perusahaan dibuang ke aliran sungai Wangi lagi, tanpa melalui proses baku mutu, sehingga air sungai kembali berubah warna dengan bau menyengat,” keluhnya.
Melihat keresahan dan keluhan warga mulai muncul, H. Sobik Kades Baujeng, melakukan penelusuran, bersama Kades Ngembe dan Kenep, terkait apa yang telah dikeluhkan warganya.
“Warga mengeluh, saat ini air sungai berubah warna dengan bau menyengat, kalau ini dibiarkan, para petani di empat Desa terdampak, terancam gagal panen, Desa Baujeng sendiri, ada 100 hektar lahan pertanian akan terancam gagal panen, belum lagi desa-desa yang lain,” jelas H. Sobik.
Saat kami melakukan penelusuran, di aliran sungai wangi, di jembatan tanggul, memang benar yang dikeluhkan warga, air sungai berubah warna, putih seperti susu dan berbau menyengat. Rabu, (02/10/24)
“Beberapa Perusahaan nakal yang berada di sekitar wilayah tersebut, diduga kuat kembali berulah, membuang limbah sembarangan tanpa melalui proses baku mutu, apalagi Perusahaan Tango dan Teh Gelas, diduga paling dominan,” ungkap Kades Baujeng.
Percuma anggaran milyaran rupiah, yang berasal dari Kementerian, untuk membangun alat pengontrol limbah di wilayah ini, tetapi tidak berfungsi. Warga hanya ingin air sungai kembali jernih dan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat,” tegasnya.
Mendengar informasi keresahan warga Desa Baujeng dan sekitarnya, terkait dugaan beberapa perusahaan yang berada di sekitar wilayah tersebut kembali membuang limbah sembarangan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur, datang ke lokasi, mengecek kebenaran informasi yang sudah diterima.
Kedatangan empat orang dari DLH Provinsi Jawa Timur, Bidang Penanganan Limbah dan Bidang Hukum ini, disambut oleh Kades Baujeng, untuk mendengar keluhan dari warga dari keempat Desa yang terdampak. Jum’at, 04/10/2024.
DLH Provinsi Jawa Timur, Bidang Hukum, Feni menyampaikan, kami sudah melihat kondisi air di aliran sungai wangi, dan sudah mengambil sampelnya dan segara dalam waktu dekat akan kami sampaikan hasil dari Labnya.
“Memang ini adalah kewenangan dari DLH Provinsi Jawa Timur, kami sudah ambil sampelnya, dan dalam waktu dekat kami kabari hasil Labnya, alat pengontrol limbah untuk saat ini sudah jalan tapi memang belum connect dengan Pusat, kami akan upayakan segera bisa difungsikan dan bisa connect pusat agar permasalahan bisa segera bisa diatasi,” tutupnya. (Mal/tim/red)





