Surabaya – Setengah abad perjalanan PT Dharma Lautan Utama (DLU) menjadi momentum refleksi atas peran strategis pelayaran dalam menopang konektivitas nasional. Peresmian perluasan kantor pusat di Jalan Kanginan, Surabaya, Senin (16/2/2026), menjadi simbol komitmen perusahaan untuk terus bertumbuh di tengah dinamika industri maritim.
Bagi DLU, usia 50 tahun bukan sekadar angka, melainkan fase konsolidasi dan evaluasi. Perusahaan menilai bahwa persaingan usaha dan tuntutan efisiensi menuntut pembenahan berkelanjutan, baik dari sisi manajemen maupun armada.
Direktur Utama Erwin H. Poedjono menyebut bahwa perbaikan internal harus berjalan seiring dengan peningkatan layanan. Target zero accident dan ketepatan waktu menjadi dua indikator utama keberhasilan perusahaan.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap kapal yang beroperasi memenuhi standar keselamatan dan pelayanan terbaik,” ujarnya.
Program renovasi kapal menjadi salah satu strategi konkret yang dijalankan pada 2026. Selain memperpanjang usia teknis kapal, renovasi juga diarahkan pada efisiensi operasional dan kenyamanan pengguna jasa.
Namun demikian, tantangan eksternal tetap menjadi perhatian. Penasihat DLU, Bambang Haryo Soekartono, mengingatkan bahwa daya saing pelayaran nasional tidak hanya ditentukan oleh kinerja perusahaan, tetapi juga oleh kebijakan pemerintah.
Ia menilai biaya kepelabuhanan dan PNBP perlu dikaji ulang agar tidak menekan struktur biaya operasional. Menurutnya, kebijakan fiskal yang tepat dapat mendorong pertumbuhan industri sekaligus menjaga stabilitas harga layanan bagi masyarakat.
Selain itu, isu normalisasi alur pelayaran juga menjadi sorotan. Kedalaman kolam pelabuhan di sejumlah wilayah dinilai belum memadai untuk mendukung kapal berkapasitas besar. Kondisi ini berpotensi menimbulkan inefisiensi dan risiko keselamatan.
BHS menegaskan pentingnya implementasi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran secara konsisten. Dengan infrastruktur yang memadai dan regulasi yang mendukung, industri pelayaran diyakini dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Di usia ke-50, DLU berada di persimpangan antara ekspansi bisnis dan tuntutan perbaikan ekosistem maritim. Manajemen berharap sinergi antara pelaku usaha dan pemerintah dapat menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif.
Perayaan emas ini pada akhirnya menjadi pengingat bahwa pelayaran bukan hanya soal transportasi, melainkan fondasi konektivitas dan integrasi Indonesia sebagai negara kepulauan.





