Brilian°Probolinggo – Niat memberi ruang hak jawab justru berujung tanda tanya besar. Seorang oknum berinisial MT yang sebelumnya aktif melayangkan sejumlah surat kepada anggota F-Wamipro kini diduga memilih jalan pintas: memblokir nomor awak media yang menghubunginya untuk klarifikasi.
Ironisnya, langkah pemblokiran itu terjadi setelah redaksi menyampaikan permohonan konfirmasi resmi. Dalam pesan yang dikirimkan, pihak media memperkenalkan diri secara terbuka dan profesional, serta memberikan ruang hak jawab agar pemberitaan tetap berimbang.
Alih-alih menjawab tiga poin klarifikasi tujuan pengiriman surat, klaim tembusan ke Dewan Pers, serta tudingan intimidasi terhadap insan pers yang terjadi justru kebisuan. MT Tak ada bantahan. Tak ada penjelasan. Nomor wartawan diduga langsung diblokir.
Sikap ini memunculkan pertanyaan mendasar: jika surat-surat sebelumnya benar dan berdasar, mengapa menghindari klarifikasi? Jika merasa dirugikan, bukankah forum klarifikasi adalah ruang paling tepat untuk menjelaskan duduk perkara?
Sejumlah aktivis sebelumnya menilai surat-surat tersebut hanya sebatas “gertak sambal” dan dianggap sebagai bentuk tekanan psikologis terhadap media. Bahkan disebutkan bahwa surat akan ditembuskan atau dilaporkan ke Dewan Pers, namun hingga kini tak ada bukti resmi yang dapat diverifikasi.
Blokir nomor wartawan tentu bukan jawaban. Dalam kerja jurnalistik, konfirmasi adalah prosedur baku. Hak jawab bukan basa-basi, melainkan kewajiban moral dan profesional yang dijamin Undang-Undang Pers.
Jika setiap kritik dibalas dengan intimidasi, dan setiap klarifikasi dijawab dengan pemblokiran, maka publik berhak curiga: ada apa sebenarnya?
Media bukan musuh. Wartawan bukan lawan tanding. Kritik adalah bagian dari kontrol sosial. Dan kontrol sosial bukan kejahatan.
Sikap tertutup hanya memperkuat persepsi publik bahwa ada sesuatu yang tak ingin dijelaskan. Transparansi adalah kunci. Menghindar hanya mempertebal asumsi.
Brilian-news akan tetap membuka ruang klarifikasi secara terbuka dan proporsional. Namun publik juga berhak menilai: mana yang lebih mencerminkan itikad baik menjawab dengan argumen, atau membalas dengan tombol “blokir”?
Ferdi





